TOMBO ATI

Call Directions Contact the business

TOMBO ATI 𝙉𝙚𝙬 𝘾𝙤𝙣𝙩𝙚𝙣𝙩 𝘾𝙧𝙚𝙖𝙩𝙤𝙧
- 𝘒𝘦𝘢𝘨𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯
- 𝘚𝘰𝘴𝘪𝘢𝘭 𝘒𝘦𝘮𝘢𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯
- 𝘉𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘍𝘢𝘬𝘵𝘶𝘢𝘭
(1)

Yang lagi Virallllll....Dia adalah Bripka Agus Ginta Meiro ( Anggota Direktorat Intelkam Polda Bengkulu )
27/09/2026

Yang lagi Virallllll....

Dia adalah Bripka Agus Ginta Meiro ( Anggota Direktorat Intelkam Polda Bengkulu )

16/09/2026

Ketua Umum PBNU dari masa ke masa sampai sekarang. Semoga kita mendapatkan barokah beliau2

16/07/2015

Kalau Allah Memerdekakanku

KALAU Allah memerdekakanku untuk bebas menumbuhkan helai-helai rambutku sendiri.

Kalau Allah mempersilahkanku dengan kebebasanku sendiri menyusun dan memerintahkan usus agar mengolah makanan.

Kalau Allah membukakan pintu kemerdekaan dan melepaskanku untuk menyembuhkan penyakitku sendiri, untuk menghibur hatiku sendiri, untuk menanggung hidup dan matiku sendiri –- Ya Allah, mampuslah aku.

Kalau Allah membebaskan badanku dari pengaruh gravitasi.

Kalau Allah membebaskanku untuk menumbuhkan sendiri setiap pohon yang kutanam.

Kalau Allah membebaskanku dan semua manusia untuk mengambil keputusan sendiri di antara kami kapan harus turun hujan dan di mana sebaiknya turun hujan.

Kalau Allah membebaskanku untuk mengatur lautan sendiri, untuk menentukan akan diapakan hutan dan gunung-gunung.

Kalau Allah membebaskanku dan semua manusia untuk mengambil keputusan sendiri mengenai tanah dan langit, mengenai apa yang baik dan yang buruk, mengenai yang mana selamat dan yang mana celaka.

Maka Ya Allah, dalam beberapa hari kami ummat manusia akan musnah dari muka bumi.

15/07/2015

Si Kembar Bodoh Pintar

SIAPA bilang anak orang kaya pasti pintar dan anak orang miskin pasti goblok. Memangnya Tuhan bodoh! Kok bikin aturan begitu!

Malah banyak anak Babe yang rendah kapasitas kecedasannya, dan banyak anak Simbok-simbok yang cemerlang bukan buatan. Tapi itu tidak tentu. Pokoknya terserah Tuhan bagaimana menentukan tingkat potensi makhluk-Nya. Itu hak Dia sepenuhnya.

Dan lagi yang disebut pintar dan bodoh itu kan relatif. Ada “pintar sekolahan”, ada “pintar kehidupan”. Ada pintar yang bodoh, ada bodoh yang pintar. Pokoknya tergantung soal dan tantangannya apa.

Tapi ada yang disebut matematika sistem. Ini bikinan manusia. Hasilnya bisa lucu. Yang jabatannya tinggi, belum tentu lebih pintar dari yang jabatannya lebih rendah. Yang mengurus X, belum tentu ahli X. Yang bakatnya jadi guru baik, malah jadi makelar motor. Yang bakatnya tukang kepruk batu, malah jadi guru. Yang ahli tinju, jadi penguasa. Yang ahli kepemimpinan, malah jadi pemborong jalan.

Atau yang lebih matematis, begini. Si A bodoh dan tak bisa melanjutkan sekolah. Si B pintar dan lancar meneruskan sekolah.

Kenapa si A bodoh? Karena orangtuanya miskin, lingkungan pergaulannya ndeso, si anak tak bisa full belajar karena harus bantu kerja orangtua. Dan nanti setiap kali harus naik sekolah, kondisi kocek amat menghalangi. Ketika bayi ia tampak punya potensi untuk jadi menteri, tapi kondisi sistem yang membuat orangtuanya begitu, membuatnya nyahok di tengah jalan.

Lain dengan si B. Sekolah di mana saja bisa. Fasilitas berlebih. Bisa beli buku apa saja, bisa punya koneksi aneka warna, dan bisa menyogok dalam jumlah tak terkira.

Itu hukum sistem. Tidak 100% begitu, tapi ia amat menentukan sejarah manusia. Karena itu konco-konco berusaha mandiri dan “mengatasi” sistem sebisa mungkin.

Memang berat. Tapi asyik.

15/07/2015

Cemburu Kepada Nabi

ADA orang yang merasa cemburu kepada para Nabi, misalnya Ibrahim dan Ismail.

“Mereka sih dapat wahyu. Jadi Ismail mau saja disembelih, lha wong itu jelas perintah Tuhan. Lha kita ini cuma punya Wahyu Prasetyo, Wahyu Utomo, atau paling jauh Wahyu Sihombing…” katanya dengan ketus.

Biarlah. Cemburu itu unsur penting dari cinta.

Wahyu itu informasi dari Allah. Juga karomah untuk para Waliyullah. Juga ilham untuk kita yang awam ini. apa beda antara ketiganya? Kualitasnya.

Mustahil d**g kalau kita tak memperoleh informasi apa-apa dari Allah. Kesepian banget d**g. Kita bisa dapat ilham atau petunjuk. Dan kita bisa siap menerimanya kalau kita pasang akal dan kepekaan batin. Cuma kita sering pura-pura tak tahu bahwa petunjuk Allah begitu jelas. Hobi kita selalu menipu diri, sih.

Apa sebab saya (misalnya) dilahirkan tak di Siberia? Apa sebab saya tak jadi anak Umar bin Khaththab? Apa sebab rambut saya berombak? Apa sebab hidung saya ‘sopan’ dan tidak terlalu senang menonjolkan diri? Kenapa saya tak punya bakat dagang? Allah is the One who knows it.

Tapi kenapa (misalnya) saya tak kebagian tempat duduk di Kereta Senja, itu bukan takdir Tuhan. Kalau ada kaum mustadh’afin, kaum yang dilemahkan, itu karena ada kaum yang mustadh’ifin, kaum yang melemahkan.

Dalam kehidupan yang campur aduk begini, memang tak gampang membedakan antara kehendak Allah dengan kehendak kaum mustadh’ifin. Kecuali kalau kita rajin nge-iqra’.

14/07/2015

Pelitpun Butuh Modal

TERNYATA tidak hanya untuk menjadi dermawan saja Anda perlu modal. Juga untuk pelitpun butuh modal.

Beberapa sahabat mempergunjingkan beberapa kawan yang makin kaya menjadi makin pelit. Ada yang memang berbakat pelit dari sono-nya. Ada yang terpengaruh oleh suatu subkultur tertentu. Ada yang memang dikondisi oleh rasa milik yang berkembang sesuai dengan bertambahnya kekayaan.

Ada kawan yang rumahnya seperti istana, tapi untuk beli genthong ia menawar secara amat militan seolah-olah sedang memperjuangkan nasib 165 juta rakyat. Ia juga tidak punya rasa tersentuh atau keterharuan, misalnya, ketika memandang bungkuk si penjual genthong.

Ada kawan yang kalau naik becak, melihat-lihat approach Pak Pembecaknya. Kalau dia ngentol (pura-pura tidak mau, padahal mau), secara tak wajar, maka sang kawan pun menanggapinya secara profesional. Kalau Pak Pembecak bersikap “manusiawi”, tak segan ia memberi dua kali lipat dari harga yang ditawarkan.

Tetapi obrolan kawan-kawan ini terutama berkisar pada rekan-rekan yang pelitnya seperti akik Yaman. Misalnya, sudah jelas dia yang paling berduit: dia mengajak ke warung, ternyata kita yang harus membayari.

Pelit ialah punya sesuatu yang sebagiannya bisa di-share, tapi disimpan saja di kantong dalam.

Kalau tak punya apa-apa lantas tak bisa ngasih apa-apa, itu bukan pelit.

Jadi kalau ingin tidak pelit, yang paling aman ialah dengan tak punya apa-apa. Mau?

13/07/2015

Suruhan

KALI ini saya menulis tentang sejumlah kelemahan pribadi saya. Ini saya pandang perlu, karena prinsip kebersamaan hidup di antara manusia adalah keharusan untuk saling menyelamatkan. Dan dengan mengungkapkan kelemahan pribadi saya ini, saya berharap orang memahaminya kemudian menghindarkan dirinya masing-masing dari keadaan seperti yang ada pada saya. Kalau tak saya ungkapkan, maka saya bisa akan menjerumuskan.

Kalau dipikir-pikir, saya ini tidak tergolong pribadi yang mandiri. Saya tidak termasuk manusia modern yang merdeka, yang independen dan profesional, yang bergerak karena ingin bergerak, yang melakukan sesuatu karena sadar untuk memilih sesuatu itu dan mengerti segala sesuatunya, termasuk resikonya.

Sangat banyak hal telah dan sedang saya lakukan, namun sangat sedikit di antara hal-hal itu yang memang benar-benar merupakan keinginan saya, konsep saya, target saya atau buah kemerdekaan pribadi saya. Kecuali yang menyangkut jenis pakaian, selera makan atau hal-hal kecil lain, saya lihat-lihat kok sebenarnya bukan aktualisasi dari kemerdekaan pribadi saya.

Bidang-bidang pekerjaan yang saya lakukan yang berkaitan dengan masalah sosial masyarakat, politik, keagamaan, pemberdayaan ekonomi atau kesenian—yang selama ini menghabiskan hampir semua waktu dan tenaga saya—rasa-rasanya kok pada umumnya bukan wujud inisiatif saya sendiri.

Ternyata saya ini seorang budak. Seorang pesuruh. Seorang pekerja pesanan.

Seorang khadim (pelayan) yang hampir tidak memiliki kebebasan pribadi.

Misalnya saya banyak menulis sesuatu kemudian akhirnya terbit menjadi berpuluh-puluh buku—saya lihat-lihat itu sesungguhnya adalah pekerjaan suruhan. Mungkin saja yang menyuruh adalah Tuhan, karena memang Dia yang menciptakan saya dan hanya Dia satu-satunya yang berhak menyuruh saya.

Tapi kalau saya bilang bahwa semua yang saya kerjakan ini adalah atas suruhan atau perintah Tuhan, tentu saya jadi tampak mbagusi dan berlagak seperti Nabi atau Rasul.

Jadi kita katakan saja yang menyuruh saya mungkin adalah teman-teman saya, mungkin satu dua koran dan majalah, mungkin sejumlah orang, mungkin sebagian masyarakat—melalui ratusan surat-surat yang mengeluhkan berbagai problem.

Misalkan Anda menampung anak-anak muda untuk Anda bikinkan badan usaha sehingga mereka bisa cari nafkah. Misalkan Anda mendirikan gedung-gedung sekolah dan pesantren, menampung anak-anak yatim, membuat yayasan-yayasan pemberdayaan, atau mungkin juga mini-bank tanpa bunga untuk tetangga-tetangga sekitar, termasuk bikin pengajian dengan belasan ribu jamaah, dan lain sebagainya. Saya yakin Anda lakukan itu karena kesadaran Anda atas prinsip-prinsip moral dan pemahaman Anda mengenai banyaknya anggota masyarakat yang memerlukan hal-hal semacam itu.

Tapi kalau saya yang mendirikan upaya-upaya seperti itu, ternyata bukan karena kemerdekaan pribadi saya, melainkan karena saya disuruh. Saya mungkin suatu jenis makhluk yang lahir ke dunia untuk tidur, meskipun kemudian terpaksa jarang dan sangat sedikit tidur karena disuruh orang lain untuk melakukan hal-hal yang ia sendiri tak pernah menginginkannya.

Pernah saya menyelesaikan 71 halaman naskah drama untuk “Gelar Budaya Rakyat” dalam rangka ulang tahun Jumenengan Sri Sultan Hamengkubuwono X yang bertemakan “Pemimpin itu Harus Bagaimana”.

Ketika pekerjaan itu saya selesaikan, saya baru sadar bahwa saya benar-benar orang suruhan.

Saya disuruh menulis naskah oleh para pemain drama yang berkumpul, karena memang hampir mustahil mereka temukan orang lain yang bisa disuruh seperti saya.

Itupun saya menulis tidak dengan kemerdekaan. Temanya sudah ada terlebih dulu. Semua alur, adegan dan dialognya tidak bebas saya tuliskan, melainkan harus saya sesuaikan dengan jumlah pemain, kapasitas mereka yang berbeda-beda, serta berbagai kemungkinan artistik yang berpedoman pada komposisi para pemain dan sutradara yang ada. Jadi saya sama sekali bukan penulis yang merdeka.

Dan tatkala kemudian saya lihat-lihat apa yang saya kerjakan selama hidup saya, umpamanya dalam hal yang bersentuhan dengan dunia kesenian—ternyata memang sama sekali bukan hasil kemerdekaan pribadi saya. Bukan kreativitas murni saya. Bukan keinginan dan karier saya. Hampir semuanya pesanan, hampir semuanya hasil suruhan.

Diam-diam keadaan itu membuat saya menjadi bahan tertawaan banyak kawan-kawan. Tapi alhamdulillah mereka punya rasa pakewuh dan sisa rasa sayang kepada saya sebagai manusia, sehingga saya tidak diejek semena-mena. Kalau ada festival, perlombaan, konstelasi, kompetisi dsb, saya tentu saja tidak akan pernah bisa masuk—tetapi ternyata diam-diam saya dilibatkan di dalamnya—meskipun sekadar sebagai bahan olok-olokan.

Misalnya saya disuruh membagi-bagikan nasi kepada sejumlah orang yang pada suatu siang memang sangat membutuhkan nasi. Pada saat itu ada acara Festival Nasi Tumpeng, di mana setiap unsur nasi dan lauk di setiap tumpeng dinilai berdasarkan ideologi estetika tumpeng. Kemudian karena kebetulan sejumlah orang yang saya kasih nasi itu sedang nonton festival nasi tumpeng—teman-teman menyangka saya juga sedang berpartisipasi dalam festival tersebut.

Padahal saya tidak pernah punya urusan dengan festival, dan nasi yang saya masak hanya saya orientasikan untuk orang lapar yang sedang memerlukannya.

Sementara orang yang sibuk berfestival pastilah tidak punya problem lapar nasi.

Sekarang saya mulai tahu bahwa saya memang tidak profesional. Tidak modern dan tidak independen. Sekarang saya mulai sadar kenapa selama ini apa yang saya kerjakan kok tidak laku, sulit, dan payah.

Susahnya saya sudah terlalu tua untuk mengubah diri, sehingga saya amat pesimistis bahwa saya akan mengubah diri dari tradisionalisme dan konservatisme yang membuat saya akan digilas zaman ini.

13/07/2015

Bunda

JIKA Bunda membelai rambutmu
Kalau Bunda mengusap keningmu, memijiti kakimu
Nikmatilah dengan rasa syukur dan batin yang bersujud
Karena sesungguhnya Allah sendiri yang hadir dan maujud

Kalau dari tempat yang jauh engkau rindu kepada Bundamu
Kalau dari tempat yang jauh Bunda rindu kepadamu,
Maka dendangkanlah nyanyian puji-puji untuk Tuhanmu
Karena setiap bunyi kerinduan hatimu adalah sebaris lagu cinta Allah kepada segala ciptaanNya

Kalau engkau menangis
Bundamu yang meneteskan airmata
Dan Tuhan yang akan mengusapnya
Kalau engkau bersedih Bundamu yang kesakitan
Dan Tuhan yang menyiapkan hiburan-hiburan

Menangislah banyak-banyak untuk Bundamu
Dan jangan bikin satu kalipun Bundamu menangis karenamu
Kecuali engkau punya keberanian
Untuk membuat Tuhan naik pitam dan murka pada hidupmu

Kalau Bundamu menangis karenamu,
Para malaikat menjelma jadi butiran-butiran air matanya
Dan cahaya yang memancar dari airmata Bundamu
Membuat para malaikat itu silau dan marah kepadamu
Dan kemarahan para malaikat adalah kemarahan suci
Sehingga Allah tidak melarang mereka tatkala menutup pintu sorga bagimu

Ibu kandungmu adalah Bunda kehidupanmu
Jangan sekali-kali engkau sakiti hatinya, karena..
Bundamu akan senantiasa memaafkanmu.
Tetapi setiap permaafan Bundamu atas setiap kesalahanmu
Akan digenggam erat-erat oleh para Malaikat
Untuk mereka usulkan kepada Tuhan
Agar dijadikan kayu bakar nerakamu

Masihkah engkau punya keberanian untuk menyakiti hati Bundamu hingga Beliau menitikkan air mata?

12/07/2015

Li-Annaka Taísyu Abadan

SEJAK saya mendengar kata “Juguran” dari lingkaran para Ksatria di arah yang terlintasi setiap kali saya berdiri Takbiratul-ihram menghadap Allah, hingga saat saya menulis ini, tidak pernah berubah pemandangan di angkasa batin saya — juga tidak pernah mau perduli apa makna asli budayanya di kampong halaman kosa-kata itu.

Yakni Rasulullah SAW sedang terbang memanggul cahaya sebesar gunung, melintas-lintas dari planet ke planet di beribu-ribu galaksi. Gunung cahaya di punggung beliau itu memancar dan berpendar-pendar, sambil sebagian dari muatan-muatan yang bermacam-macam wujudnya, yang berasal dari kedalaman cahaya itu menabur-nabur seakan tak sengaja, menciprat, terlempar, berguguran, atau apapun namanya karena tidak ada kata yang bias menggambarkan peristiwa dhahiriyah maupun ruhiyahnya.

Mungkin ada kata ‘prithil’ atau ‘gempil’ dan sejumlah kata lagi yang bisa dipakai untuk menambah kelengkapan dan kedekatan terhadap yang saya saksikan. Memori dan saraf pemahaman di susunan akal saya tidak pernah mau mengubah pemahamannya atau taat kepada epistimologi orisinal budayanya dari mana kata itu berasal. Selalu saja kapan saya membaca atau mendengar kata “Juguran Syafaat” assosiasi saya adalah “Prithilan Syafaat” atau “Gempilan Syafaat”.

Dan sebagai warga Peradaban Maiyah saya tidak mau memperdebatkannya dengan akal saya sendiri, terlebih lagi dengan siapapun di luar diri saya.

Pertama, karena “al-Haqq”, kebenaran, kasunyatan, tidak bertempat tinggal di kata.

Kedua, “Wa állama Adama al-asma-a kullaha” terutama bukanlah piwulang Allah kepada Khalifah Pertama tentang kosa-kata, melainkan idiomatik, terminologi, penunjukan-penunjukan suatu pusaran gejala dan peristiwa.

Adam adalah hibrida baru yang berkwalitas “ahsanu taqwim”. Bukan manusia “purba” yang perlu diajari ini batu itu angin, sebab kelak setiap kosa-kata lahir dari komunitas-komunitas manusia sebagai simpul bunyi yang berisi perjanjian untuk penyeragaman sebutan atas sesuatu hal.

Allah tidak perlu mengajari langsung di tataran itu. Yang diajarkan Allah kepada Adam adalah piweling bahwa nanti anak cucu Adam akan menjumpai dan mengalami titik-titik koordinat peristiwa, lipatan, pusaran dan kisaran, silang saling silang, bahkan gumpalan maupun ketersembunyian kebenaran-kebenaran yang untuk itu Khalifah disangoni al-áql, mesin berpikir, mesin peneliti, mesin detailing tartiling, sebab setiap ia dan semua mereka harus terus menerus berperang melawan ketidak-mengertian dirinya sendiri, kebodohan dan kelalaian.

Apalagi ummat manusia akan harus mengalami suatu zaman di mana orang yang tidak memenuhi syarat sebagai Khalifah-standard saja pun bisa oleh system kedunguan massal dijunjung dan dijumenengkan menjadi Panglima Khalifah.

Di tengah zaman yang sangat memilukan dan memalukan itu, Rasulullah SAW menyelamatkan siapa saja yang mencintainya, dengan cara didistribusi taburan Syafaat-syafaat, bahkan secara setengah sengaja Gunung Cahaya yang dipanggul itu oleh beliau dibiarkan “jugur”, “lugur”, “prithil”, “gempil”, menimpa para kekasih menjadi rahmat Allah dalam kehidupan mereka.

Maka qabilah Juguran Syafaat, andaikanpun Maiyah tak pernah bersentuhan dengan mereka, tetap juga karena dinamika “suluk” mereka: juguran syafaat itu mereka peroleh dari lalulintas beterbangannya Rasulullah saw mendistribusikan limpahan-limpahan Gunung Cahaya.

Itu menyebabkan saya membiarkan diri “gedhe rumongso” mengaku-ngaku mereka sebagai anak saya, didalam pesawat rohaniyah kegembiraan dan kebanggaan hidup saya dalam penugasan yang ini.

Anak-anakku itu terampil dan prigel mengolah Bumi, untuk diakhiratkan. Anak-anakku itu canggih dan tekun mengelola materi dan materialitas tidak menjadi materialisme dan tanpa pernah menjadi materialistis.

Anak-anakku yang dilimpahi juguran syafaat oleh Kanjeng Nabi itu sangat memiliki kewaspadaan intelektual dan spiritual untuk tidak menjalani kehidupan ini dengan adrenalis keserakahan mencari laba-laba sebanyak-banyaknya karena beranggapan seolah-olah mereka akan hidup selama-lamanya. Kemudian mengakali dan mengeliminir kerakusannya itu dengan kerajinan ibadah yang dilokalisir dan dimanipulir sebagai satu-satunya tindakan yang bermakna akhirat. Tidak!!!

Anak-anakku Juguran Syafaat mengolah bumi, bekerja keras, mengendalikan materi, untuk justru diakhiratkan, ditemukan makna keabadiannya, ditarikati akurasi keakhiratannya. Anak-anakku Juguran Syafaat menggenggam batu, kayu, logam, lembaran-lembaran dan cairan-cairan, tidak untuk mendirikan Monumen Bumi, melainkan dirohanikan menjadi Kesejatian Sorga.

Sebab mereka bukan sekedar “ka-annaka taísyu abadan”, seakan-akan hidup selama-lamanya, melainkan “li-annaka taísyu abadan” — karena memang engkau hidup hingga abadi, karena ujung perjalananmu adalah menyatu dengan dan kepada Allah, bahkan meniada “menjadi” Allah, karena engkau dan kita semua tidaklah sesungguh-sungguhnya ada. Dan Allah itu abadi.

Siapakah selain Allah yang pasti abadi?

11/07/2015

Harapan dan Doa — Zainul Arifin

BERITA duka itu sangat menyentak. Di usia yang relatif sangat muda (39) Allah memanggil kekasih-Nya, Muhammad Zainul Arifin.

Zainul, seorang qori. Pelantun ayat-ayat suci Al Quran yang menguasai berbagai cengkok lisanul arabi khas Timur Tengah, berasal dari sebuah desa di Mojokerto, Jawa Timur.

Ia, salah satu vokalis utama Kiai Kanjeng yang bergabung lebih dari lima belas tahun. Mengikuti tour-tour keliling dunia; dari kawasan Timur Tengah, Eropa, Hongkong, Taiwan, Macau sampai ke negeri tetangga, Malaysia.

Zainul juga adalah seorang guru bagi qori-qori dari berbagai daerah yang akan berlomba mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran tingkat nasional maupun internasional.

Tidak mengherankan tatkala tampil di beberapa tempat kota di Mesir, Abu Dhabi dan Maroko, Zainul dielu-elukan. Mendapat aplus panjang. Bahkan Driss Ouaouicha, Rektor Universitas Al Akhawayn, Maroko, secara khusus meminta bertemu dengan Zainul. Rektor bersama Ketua Lembaga Bahasa universitas tersebut terkagum-kagum terhadap suaranya dalam membawakan suluk-suluk atau lagu-lagu berbahasa Arab.

Di Mojokerto, Zainul melatih qori-qori muda dan membina grup-grup shalawat. Acara Banawa Sekar, di Pendopo Agung Triwulan, Mojokerto, Mei 2014, yang menampilkan ribuan jamaah shalawat adalah atas kerja keras Zainul Arifin.

Di saat-saat terbaring di Rumah Sakit Haji Sukolilo, Surabaya, Zainul masih menciptakan lagu untuk shalawat pada 7 Juni 2015 lalu, yang direkam melalui handphone, yang diberi judul “Harapan Dan Doa.”

Kini, raja shalawat itu telah pergi. Kita kehilangan mutiara di antara bebatuan. KiaiKanjeng berduka. Jamaah Maiyah Nusantara menitikkan air mata. Seorang pelantun shalawat terbaik di Jawa Timur, bahkan di Indonesia.

“Harapan dan Doa” – Zainul Arifin, RS Haji Sukolilo Surabaya, 7 Juni 2015

Inna Lillahi Wainna ilaihi raji'un. Allahumaghfirlahu. Warhamhu. Wa'afihi. Wa'fu anhu.

Address

Kwanyar

Telephone

+6282333995777

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when TOMBO ATI posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to TOMBO ATI:

Shortcuts

Share