Yayasan Banyu Biru Food Estate

Yayasan Banyu Biru Food Estate YAYASAN BANYU BIRU FOOD ESTATE
Yayasan Pertanian Terpadu, Pertanian Dipadukan Peternakan & Perikanan

01/03/2026

MENGUATKAN KEMANDIRIAN PANGAN DESA MELALUI TEKNOLOGI SUNDULWAWU

Dari kolam lele menuju pertanian organik terpadu

Sabtu, 15 Februari 2026 menjadi hari yang penting dalam upaya penguatan ekonomi berbasis desa saat rombongan melakukan kunjungan lapangan ke Bundes Sumber Artha yang berada di Desa Karang Jambe. Kunjungan ini bertujuan meninjau langsung penerapan teknologi SundulWawu dalam sistem tabur benih ikan lele yang terintegrasi dengan pertanian organik.

Secara administratif, desa ini berada di Kecamatan Padamara, bagian dari Kabupaten Purbalingga, wilayah agraris di Jawa Tengah yang dikenal memiliki tradisi panjang dalam pengelolaan sawah dan budidaya perikanan rakyat.

Teknologi SundulWawu: Mengubah Limbah Menjadi Berkah

Dalam pemaparan pengelola Bundes Sumber Artha, teknologi SundulWawu bukan sekadar metode budidaya ikan, melainkan sebuah sistem ekologi produksi terpadu. Pada tahap awal, benih ikan lele ditebar dalam kolam yang telah dirancang dengan manajemen air, pakan, dan sirkulasi yang terkendali. Keunggulan utama sistem ini terletak pada pengelolaan limbah.

Kotoran dan sisa pakan ikan yang selama ini dianggap sebagai residu justru diolah menjadi pupuk organik cair dan padat melalui proses pengendapan, fermentasi alami, serta pematangan biologis tanpa bahan kimia. Hasilnya adalah pupuk berkualitas tinggi yang kaya unsur hara mikro, sangat baik untuk : Persawahan padi, Perkebunan hortikultura, Tanaman palawija, Budidaya buah dan tanaman keras, Pertanian pekarangan masyarakat

Dengan demikian, tidak ada yang terbuang dalam sistem ini. Kolam lele menjadi pusat siklus nutrisi yang menghidupkan lahan pertanian di sekitarnya.

Model Ekonomi Sirkular Berbasis Desa
Pendekatan SundulWawu yang diterapkan di Bundes Sumber Artha memperlihatkan model ekonomi sirkular desa, di mana sektor perikanan dan pertanian tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menopang. Ikan menghasilkan limbah organik, limbah diolah menjadi pupuk, pupuk menyuburkan tanaman, dan hasil pertanian kembali mendukung ketahanan pangan masyarakat.

Konsep ini sekaligus menjawab dua tantangan besar pedesaan : Tingginya biaya pupuk kimia yang membebani petani, Kurangnya nilai tambah dari budidaya perikanan konvensional.

Melalui integrasi ini, biaya produksi dapat ditekan, kesuburan tanah meningkat, dan petani memperoleh alternatif pupuk yang ramah lingkungan serta berkelanjutan.
Kembali ke Kearifan Nusantara, Berbasis Ilmu Terapan

Teknologi SundulWawu yang dikembangkan bukanlah teknologi impor, melainkan hasil penggabungan antara kearifan lokal dengan pendekatan ilmiah modern. Prinsip dasarnya selaras dengan filosofi pertanian Nusantara: alam tidak menghasilkan sampah, manusia yang harus belajar mengelolanya.

Di lokasi ini terlihat bagaimana desa mampu menjadi laboratorium hidup bagi praktik pertanian masa depan—pertanian yang tidak merusak tanah, tidak bergantung sepenuhnya pada bahan kimia, dan menghidupkan kembali keseimbangan ekosistem.

Harapan: Replikasi untuk Ketahanan Pangan Nasional

Kunjungan ini diharapkan menjadi langkah awal replikasi model SundulWawu ke berbagai daerah lain di Indonesia. Jika diterapkan secara luas, sistem ini berpotensi menjadi solusi nyata bagi : Penguatan ketahanan pangan nasional, Peningkatan kesejahteraan petani dan pembudidaya ikan, Pengurangan ketergantungan pada pupuk sintetis, Pemulihan kesuburan tanah secara alami, Pengembangan ekonomi desa berbasis sumber daya lokal

Bundes Sumber Artha di Desa Karang Jambe kini menjadi contoh bahwa inovasi tidak selalu lahir di kota besar. Dari desa, lahir sebuah model pertanian terpadu yang sederhana, hemat, dan berkelanjutan—sebuah ikhtiar nyata membangun kedaulatan pangan dari akar rumput.

27/02/2026

SAFARI RAMADHAN DI SURABAYA : DIALOG GENEALOGI ISLAM DAN KETAHANAN PANGAN LEWAT PODCAST KEILMUAN
Penulis : Hengky Sendyanto
Narasumber : Ustadz Aziz Sumarno
Tim SundulWawu
Sumber Vidio dari Akun YouTube KRT Nur Ikhyak Hadinegoro : https://m.youtube.com/watch?v=8aML7R69Hzk

Surabaya, 27 Februari 2026 — Rangkaian Safari Ramadhan menjadi momentum mempertemukan tradisi keilmuan, kepedulian sosial, dan gagasan kemandirian umat. Pada Jumat (27/2/2026), Tim SundulWawu melakukan kunjungan silaturahmi sekaligus kegiatan intelektual bersama KRT KH Nur Ikhyak Hadinegoro Salafi, beliau seorang cendekiawan asal Surabaya yang dikenal fokus pada kajian genealogi Islam, penelitian manuskrip, serta penelusuran kitab-kitab sejarah klasik.

Selain sebagai peneliti dan tokoh literasi keislaman, beliau juga menjabat Dewan Penasehat Kasepuhan di PP PWI-LS dan merupakan pendiri serta pengasuh Yayasan Panti Asuhan Ar Rochim, yang selama ini aktif dalam kegiatan sosial, pendidikan, dan pembinaan generasi muda.

Kunjungan tersebut dipimpin oleh Kyai Musyafak Sukri, Kyai M Munasir, Hengky Sendyanto dengan menghadirkan Ustadz Aziz Sumarno sebagai narasumber utama dalam sebuah podcast kajian tauhid yang disiarkan secara langsung dari studio milik KH Nur Ikhyak Hadinegoro Salafi. Format dialog digital ini dipilih sebagai sarana dakwah kontemporer untuk menjangkau masyarakat luas, khususnya generasi muda yang akrab dengan media daring.

Dalam kajian tersebut, pembahasan tidak hanya menyentuh aspek teologis, tetapi juga mengaitkan nilai tauhid dengan tanggung jawab manusia menjaga kehidupan sosial dan ekonomi. Tauhid dipahami sebagai kesadaran keesaan Allah yang melahirkan etos kerja, kejujuran, kemandirian, dan kepedulian terhadap kesejahteraan sesama.

Salah satu tema utama yang mengemuka adalah pentingnya ketahanan pangan sebagai bagian dari ketahanan umat. Dalam perspektif keislaman, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat dipandang sebagai wujud nyata kemaslahatan yang harus diperjuangkan secara kolektif. Karena itu, forum ini juga menjadi ajang sosialisasi Program SundulWawu: Pertanian Terpadu Nusantara Hijau, sebuah konsep pemberdayaan berbasis integrasi perikanan, pertanian, peternakan, industri perdagangan, koperasi dan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

Program tersebut dinilai sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menempatkan manusia sebagai khalifah di bumi—mengelola alam tanpa merusaknya, serta membangun sistem ekonomi yang adil dan mandiri. Melalui pendekatan komunitas, pesantren, dan lembaga sosial, gerakan ini diharapkan mampu menjawab tantangan krisis pangan sekaligus memperkuat solidaritas masyarakat.

Ustadz Aziz Sumarno dan KRT KH Nur Ikhyak Hadinegoro Salafi dalam kesempatan itu sepakat menegaskan bahwa kajian sejarah dan manuskrip Islam Nusantara menunjukkan bahwa peradaban besar selalu dibangun di atas keseimbangan antara ilmu, spiritualitas, dan kemandirian ekonomi. “Tradisi ulama dahulu tidak hanya mengajar, tetapi juga membangun masyarakat yang kuat secara pangan dan sosial. Itu yang perlu dihidupkan kembali hari ini,” ungkapnya.

Safari Ramadhan yang dikemas melalui dialog ilmiah dan siaran podcast ini menjadi simbol pertemuan antara warisan keilmuan klasik Nusantara dan metode dakwah modern. Dari ruang studio sederhana di Surabaya, pesan tentang pentingnya menjaga akidah, memperkuat kemandirian pangan, dan membangun peradaban yang berkeadaban disebarluaskan kepada masyarakat luas.

Kegiatan ini diharapkan menjadi model kolaborasi antara ulama Nusantara, akademisi, dan pegiat sosial dalam menghadirkan solusi nyata bagi persoalan zaman—menguatkan umat secara spiritual, mandiri secara ekonomi, dan berdaya dalam menghadapi tantangan masa depan.

SAFARI RAMADHAN DI DAMPIT : DIALOG, KLARIFIKASI, DAN IKHTIAR SOLUSI UNTUK UMAT DAN BANGSA Penulis : Hengky Sendyanto Nar...
26/02/2026

SAFARI RAMADHAN DI DAMPIT : DIALOG, KLARIFIKASI, DAN IKHTIAR SOLUSI UNTUK UMAT DAN BANGSA
Penulis : Hengky Sendyanto
Narasumber : Aziz Sumarno
Tim SundulWawu

Malang, 26 Februari 2026 — Dalam semangat merawat ukhuwah dan membuka ruang dialog konstruktif, rombongan Safari Ramadhan melakukan kunjungan silaturahmi dengan Gus Ilyas di Pondok Pesantren UNIQ Nusantara, yang diasuh oleh KH. Abdul Ghufron Al Bantani (Abuya Mama Ghufron), berpusat di Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (26/2/2026).

Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi terbuka di tengah dinamika masyarakat, terlebih setelah pesantren tersebut sempat menjadi sorotan publik dan perbincangan luas di ruang digital. Safari Ramadhan dimaksudkan sebagai forum tabayyun, silaturahmi, sekaligus mencari titik temu demi kemaslahatan bersama.

Dalam suasana dialog yang hangat dan penuh kehati-hatian, para peserta menekankan pentingnya menjadikan perbedaan pandangan sebagai bahan musyawarah, bukan sumber perpecahan. Ramadhan dipandang sebagai momentum terbaik untuk merajut kembali persaudaraan, memperkuat nilai kebangsaan, dan menghadirkan solusi nyata atas persoalan umat.

Pertemuan tersebut tidak hanya membahas isu-isu keagamaan dan sosial yang berkembang, tetapi juga mengangkat agenda strategis berupa sosialisasi Program SundulWawu: Pertanian Terpadu Nusantara Hijau. Program ini diperkenalkan sebagai model pemberdayaan berbasis kemandirian pangan melalui integrasi pertanian, peternakan, perikanan, dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Konsep SundulWawu dinilai relevan untuk menjawab tantangan ekonomi masyarakat pedesaan sekaligus memperkuat ketahanan sosial. SundulWawu diharapkan dapat berperan sebagai pusat edukasi produksi dan pelatihan keterampilan, sehingga masyarakat nantinya memiliki bekal kemandirian yang aplikatif, tidak hanya dalam bidang keagamaan tetapi juga dalam sektor produktif.

Selain itu, dialog juga menyinggung pentingnya menjaga ketahanan keamanan NKRI melalui pendekatan kesejahteraan dan persatuan. Stabilitas nasional, sebagaimana disampaikan dalam forum tersebut, tidak hanya bergantung pada aspek pertahanan formal, tetapi juga pada masyarakat yang rukun, tercukupi kebutuhan pangannya, dan memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat.

Safari Ramadhan ini menjadi simbol bahwa setiap persoalan dapat didekati melalui komunikasi, klarifikasi, dan yang berorientasi pada solusi. Harapan kita dan SundulWawu dan Pondok Pesantren UNIQ Nusantara sepakat bahwa kita, sebagai institusi moral dan sosial, memiliki peran strategis dalam menjaga harmoni serta membangun kemandirian umat di tengah perubahan zaman.

Dengan semangat Ramadhan yang meneduhkan, pertemuan di Dampit diharapkan menjadi langkah awal memperkuat sinergi lintas elemen masyarakat—merawat persaudaraan, mengembangkan gerakan Nusantara Hijau, dan menjaga keutuhan NKRI dalam bingkai nilai-nilai keislaman yang damai dan membangun.

SAFARI RAMADHAN DI MAJELIS SEGORO ATI JAMI'AH WAQI'AH SEGORO ATI : MENYATUKAN SPIRIT KEAGAMAAN, KEMANDIRIAN PANGAN, DAN ...
26/02/2026

SAFARI RAMADHAN DI MAJELIS SEGORO ATI JAMI'AH WAQI'AH SEGORO ATI : MENYATUKAN SPIRIT KEAGAMAAN, KEMANDIRIAN PANGAN, DAN KETAHANAN NKRI
Penulis : Hengky Sendyanto
Narasumber : Ustadz Aziz Sumarno
Tim SundulWawu

Jawa Timur, 26 Februari 2026 — Rangkaian Safari Ramadhan terus menjadi wahana mempererat silaturahmi sekaligus merumuskan langkah-langkah strategis menjawab tantangan zaman. Pada Kamis (26/2/2026), rombongan Tim SundulWawu melakukan kunjungan ke rumah sekaligus pondok Majelis Segoro Ati Jami'ah Waqi'ah Segoro Ati, yang diasuh oleh KH Syaikur Rizal atau yang akrab disapa Gus Rizal.

Selain sebagai pengasuh majelis, Gus Rizal juga merupakan Ketua Pimpinan Wilayah Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS) Provinsi Jawa Timur, sehingga pertemuan ini menjadi forum penting yang menggabungkan dimensi keagamaan, sosial, dan kebangsaan dalam satu ruang musyawarah.

Dalam suasana Ramadhan yang penuh kekhidmatan, dialog berlangsung hangat namun substansial. Kami membahas berbagai persoalan aktual yang dihadapi masyarakat, mulai dari tantangan ekonomi umat, meningkatnya disrupsi sosial, hingga pentingnya memperkuat ketahanan nasional melalui pendekatan berbasis pemberdayaan masyarakat.

Gus Rizal menegaskan bahwa dakwah hari ini harus bergerak melampaui ceramah normatif menuju kerja-kerja nyata yang menyentuh kebutuhan dasar umat. “Ramadhan mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan ikhtiar. Ketika umat kuat secara spiritual, maka harus diikuti dengan kemandirian ekonomi dan kepedulian sosial,” ujarnya.

Salah satu agenda utama dalam kunjungan tersebut adalah sosialisasi Program SundulWawu: Pertanian Terpadu Nusantara Hijau. Program ini menawarkan model pemberdayaan berbasis integrasi pertanian, peternakan, dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Konsep tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi mandiri di tingkat akar rumput, sekaligus menjadi solusi atas ancaman krisis pangan dan kerusakan lingkungan.

Pendekatan SundulWawu menempatkan pesantren dan majelis sebagai pusat edukasi produksi pangan, bukan hanya pusat pengajaran agama. Dengan pelatihan budidaya terpadu, pemanfaatan lahan produktif, hingga penguatan jaringan distribusi berbasis komunitas, gerakan ini diharapkan melahirkan kemandirian yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.

Dalam diskusi juga ditekankan bahwa ketahanan pangan memiliki keterkaitan erat dengan ketahanan keamanan NKRI. Masyarakat yang sejahtera dan mandiri dinilai lebih tangguh menghadapi provokasi, konflik sosial, maupun tekanan ekonomi global. Karena itu, penguatan sektor riil berbasis komunitas dipandang sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas nasional.

“Menjaga NKRI tidak cukup dengan slogan. Harus ada kekuatan ekonomi rakyat, persatuan sosial, dan kesadaran spiritual yang berjalan beriringan,” tegas Gus Rizal, seraya mengajak seluruh elemen umat untuk memperkuat kolaborasi dan menghindari perpecahan.

Safari Ramadhan di Majelis Segoro Ati Jami'ah Waqi'ah Segoro Ati ini menjadi simbol bahwa peran ulama dan lembaga keagamaan tetap relevan sebagai penjaga moral sekaligus penggerak solusi konkret bagi masyarakat. Dari ruang-ruang majelis yang sederhana, lahir gagasan besar tentang Indonesia yang hijau, mandiri, dan kokoh dalam persatuan.

Kunjungan ini diharapkan menjadi awal dari langkah berkelanjutan untuk mengimplementasikan program-program pemberdayaan yang mampu menjawab kebutuhan zaman, memperkuat ketahanan pangan, serta menjaga keutuhan dan keamanan NKRI dalam bingkai nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin.

SAFARI RAMADHAN DI KEBONSARI : MERAWAT UKHUWAH, MENGUATKAN KETAHANAN PANGAN DAN NKRI.Penulis : Hengky Sendyanto Narasumb...
26/02/2026

SAFARI RAMADHAN DI KEBONSARI : MERAWAT UKHUWAH, MENGUATKAN KETAHANAN PANGAN DAN NKRI.
Penulis : Hengky Sendyanto
Narasumber : Ustadz Aziz Sumarno
Tim SundulWawu

Malang, 26 Februari 2026 — Safari Ramadhan kembali menjadi ruang silaturahmi sekaligus musyawarah kebangsaan. Kali ini, rombongan tokoh masyarakat dan aktivis pemberdayaan berkunjung ke kediaman KH. M. Yusuf Abdurahman (Gus Yusuf), Pengasuh Majelis Ta'lim Darul Hikmah An-Nawawi, Kebonsari, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (26/2/2026).

Pertemuan yang berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kekeluargaan itu tidak sekadar agenda rutin Ramadhan, tetapi menjadi forum diskusi serius untuk merespons berbagai persoalan aktual—mulai dari tantangan sosial-keagamaan, ketahanan ekonomi umat, hingga pentingnya menjaga stabilitas dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam tausiyah dan dialog terbuka, Gus Yusuf menekankan bahwa Ramadhan adalah momentum memperkuat kesadaran kolektif umat agar tidak terjebak dalam polarisasi, provokasi, maupun konflik horizontal. “Umat harus memperkuat persaudaraan, memperbanyak solusi, bukan memperbesar masalah. Agama hadir untuk menenteramkan dan membangun,” ujarnya.

Salah satu pokok pembahasan utama adalah sosialisasi Program SundulWawu: Pertanian Terpadu Nusantara Hijau, sebuah konsep pemberdayaan berbasis pertanian terpadu yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, perikanan, serta pengelolaan limbah ramah lingkungan. Program ini dirancang sebagai jawaban atas tantangan ketahanan pangan, kemandirian ekonomi masyarakat, serta ancaman krisis ekologis yang kian nyata.

Konsep SundulWawu menempatkan pesantren dan majelis taklim sebagai pusat edukasi sekaligus laboratorium sosial. Melalui pelatihan pertanian organik, budidaya terpadu, dan penguatan koperasi umat, diharapkan lahir ekosistem ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan. Pendekatan ini dipandang strategis dalam memperkuat daya tahan masyarakat dari gejolak ekonomi global maupun tekanan sosial yang berpotensi memicu instabilitas.

Dalam diskusi tersebut juga ditegaskan bahwa ketahanan pangan dan ketahanan ekonomi merupakan bagian tak terpisahkan dari ketahanan keamanan NKRI. Stabilitas nasional tidak hanya ditopang oleh aparat keamanan, tetapi juga oleh masyarakat yang sejahtera, rukun, dan berdaya. Ketika kebutuhan dasar terpenuhi dan kesadaran kebangsaan terawat, potensi konflik dan disintegrasi dapat diminimalkan.

Gus Yusuf mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga semangat kebangsaan, memperkuat nilai moderasi, serta mengedepankan dialog dalam menyelesaikan perbedaan. “NKRI adalah amanah bersama. Menjaganya bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab seluruh anak bangsa,” tegasnya.

Safari Ramadhan di Kebonsari ini pun menjadi simbol sinergi antara ulama, tokoh masyarakat, dan gerakan pemberdayaan umat dalam membangun peradaban yang berlandaskan iman, ilmu, dan kerja nyata. Dari majelis sederhana itulah, gagasan tentang Nusantara Hijau dan Indonesia yang aman serta berdaulat terus dirawat.

Melalui silaturahmi ini, diharapkan lahir langkah konkret yang mampu menjawab tantangan zaman—menguatkan ketahanan pangan, memperkokoh persatuan, serta menjaga keamanan dan keutuhan NKRI dalam bingkai nilai-nilai keislaman dan kebangsaan yang sejuk dan konstruktif.

SAFARI RAMADHAN MENEGUHKAN IKHTIAR KEBANGSAAN DAN KEMANDIRIAN Penulis : Hengky Sendyanto Narasumber : Ustadz Aziz Sumarn...
26/02/2026

SAFARI RAMADHAN MENEGUHKAN IKHTIAR KEBANGSAAN DAN KEMANDIRIAN
Penulis : Hengky Sendyanto
Narasumber : Ustadz Aziz Sumarno
Tim SundulWawu

Malang, 26 Februari 2026 — Momentum bulan suci Ramadhan dimaknai sebagai ruang mempererat ukhuwah sekaligus merumuskan solusi atas berbagai persoalan umat dan bangsa. Hal itu tercermin dalam kunjungan silaturahmi Safari Ramadhan yang dilaksanakan ke kediaman KH Marzuqi Mustamar, Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek, yang telah mengasuh sejak 1997 hingga sekarang, sekaligus Dewan Penasehat (Dewan Kasepuhan) di Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS).

Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan itu tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga forum musyawarah untuk mencari jalan keluar atas berbagai dinamika sosial-keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat saat ini. Dalam dialog tersebut, ditekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara nilai spiritual, ketahanan sosial, dan kemandirian ekonomi umat sebagai fondasi utama membangun peradaban yang berkeadaban.

KH Marzuqi Mustamar menegaskan bahwa Ramadhan merupakan momentum terbaik untuk memperkuat kesadaran kolektif umat agar tidak terjebak dalam konflik, polarisasi, maupun perdebatan yang melemahkan energi kebangsaan. “Umat harus kembali pada kerja-kerja nyata yang memberi maslahat. Dakwah tidak cukup dengan narasi, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan yang menyejahterakan,” ujar beliau.

Salah satu pokok pembahasan dalam Safari Ramadhan tersebut adalah sosialisasi Program SundulWawu: Pertanian Terpadu Nusantara Hijau, sebuah gerakan pemberdayaan yang mengintegrasikan pertanian, peternakan, dan pengelolaan lingkungan berbasis kearifan lokal. Program ini dipandang sebagai langkah strategis untuk menjawab tantangan ketahanan pangan, krisis ekologi, serta kebutuhan ekonomi masyarakat akar rumput.

Konsep SundulWawu menekankan model pertanian terpadu yang tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga pada keberlanjutan alam, kemandirian petani, dan penguatan ekosistem sosial pesantren sebagai pusat edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Pesantren diharapkan menjadi laboratorium hidup bagi praktik pertanian berkelanjutan yang menyatukan ilmu, amal, dan keteladanan.

Dalam pertemuan tersebut juga disoroti pentingnya membangun sinergi antara ulama, masyarakat, dan organisasi sosial dalam merawat warisan perjuangan Walisongo—yakni dakwah yang menyejukkan, membangun, dan membumi. Pendekatan kultural dan solutif dinilai lebih relevan dalam menjawab tantangan zaman dibandingkan pola-pola konfrontatif yang berpotensi memecah belah.

Safari Ramadhan ini menjadi penegasan bahwa pesantren bukan sekadar pusat pendidikan agama, melainkan juga pilar pemberdayaan umat dan penjaga harmoni sosial. Dari ruang-ruang sederhana itulah, gagasan besar tentang kemandirian bangsa, kelestarian lingkungan, dan persatuan umat terus dirawat.

Melalui silaturahmi ini, diharapkan lahir langkah-langkah konkret yang mampu menjawab persoalan kekinian sekaligus menyiapkan masa depan yang lebih hijau, berdaulat, dan berkeadaban—sejalan dengan semangat Ramadhan sebagai bulan perubahan dan perbaikan diri, baik secara spiritual maupun sosial.

MEMULAI SAFARI RAMADHAN: MENYAMBUNG SILATURAHMI, MENEGUHKAN KHIDMAT UNTUK UMATPenulis : Hengky Sendyanto Pendiri & Ketua...
25/02/2026

MEMULAI SAFARI RAMADHAN: MENYAMBUNG SILATURAHMI, MENEGUHKAN KHIDMAT UNTUK UMAT
Penulis : Hengky Sendyanto
Pendiri & Ketua Yayasan Banyu Biru Food Estate
Tim Sundulwawu

Tim Sundulwawu - Rabu, 25 Februari 2026 menjadi langkah awal perjalanan Safari Ramadhan yang saya, Hengky Sendyanto, jalani bersama para alim dan tokoh agama; Musyafak Sukri, Munasir, serta Aziz Sumarno. Perjalanan ini bukan sekadar agenda kunjungan, melainkan ikhtiar menyambung silaturahmi, menguatkan ukhuwah, dan meneguhkan komitmen pengabdian kepada umat di momentum suci Ramadhan.

Safari Ramadhan kali ini dirancang sebagai ruang dialog, dakwah, dan konsolidasi sosial-keagamaan. Di berbagai titik yang akan kami kunjungi, agenda tidak hanya berisi tausiyah dan ibadah bersama, tetapi juga diskusi kebangsaan, penguatan ekonomi umat, serta penyelarasan program-program sosial yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Ramadhan adalah bulan penyucian jiwa sekaligus momentum kebangkitan moral dan spiritual. Melalui Safari ini, kami berharap dapat menghadirkan semangat persatuan, mempererat sinergi antar elemen masyarakat, dan membangun optimisme bersama di tengah berbagai tantangan zaman.

Perjalanan ini adalah langkah kecil dengan harapan besar: agar cahaya Ramadhan tidak hanya menerangi masjid dan majelis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif untuk bergerak, berbuat, dan memberi manfaat yang lebih luas bagi umat dan bangsa.

25/02/2026

MENJEMBATANI LANGIT DAN BUMI :
Konsep “Langitan” dalam Gagasan SundulWawu untuk Pertanian Terpadu Nusantara Hijau

Oleh : Hengky Sendyanto
Pendiri dan Ketua Yayasan Banyu Biru Food Estate
Pembicara : Ustadz Aziz Sumarno
Konseptor : Kang Beny Hadiyanto

Banyu Biru Food Estate - Di tengah berbagai tantangan krisis pangan, kerusakan lingkungan, dan semakin jauhnya manusia dari harmoni alam, lahir sebuah gagasan yang tidak hanya berbicara tentang teknik bertani, tetapi juga tentang cara pandang hidup. Gagasan tersebut dikenal sebagai SundulWawu Pertanian Terpadu Nusantara Hijau, sebuah konsep yang memadukan nilai spiritualitas, kearifan lokal, dan ilmu pertanian berkelanjutan.

Dalam sebuah forum kajian kebangsaan dan kemandirian pangan, Ustadz Aziz Sumarno memberikan penjelasan mendalam mengenai konsep “Langitan”, sebuah istilah filosofis yang digagas oleh Kang Beny Hadiyanto sebagai fondasi etika dan spiritual dalam sistem pertanian Nusantara.

Langitan: Spiritualitas sebagai Akar Peradaban Tani

Menurut Ustadz Aziz Sumarno, konsep Langitan bukanlah istilah simbolik semata, melainkan sebuah paradigma berpikir yang menghubungkan aktivitas manusia di bumi dengan kesadaran ketuhanan.
“Pertanian dalam pandangan Langitan bukan sekadar menanam dan memanen, tetapi bentuk ibadah kosmik—manusia menjadi perantara rahmat Allah untuk menghidupkan bumi,” jelasnya.

Dalam pemahaman ini, petani tidak diposisikan sebagai pekerja ekonomi semata, melainkan sebagai khalifah ekologis yang bertugas menjaga keseimbangan antara tanah, air, udara, dan kehidupan sosial. Setiap benih yang ditanam dipandang sebagai amanah, bukan komoditas belaka
SundulWawu: Membalik Cara Pandang Modern yang Terlalu Materialistik
Gagasan SundulWawu lahir sebagai kritik terhadap sistem pertanian modern yang dianggap terlalu menitikberatkan pada produktivitas instan, penggunaan bahan kimia berlebihan, dan eksploitasi lahan tanpa mempertimbangkan keberlanjutan.
Dalam tafsir Kang Beny Hadiyanto yang dijelaskan kembali oleh Ustadz Aziz, SundulWawu dimaknai sebagai:
“Gerakan menegakkan kembali kesadaran manusia agar pertanian berjalan selaras dengan hukum langit (Langitan) dan hukum bumi (alam).”

Artinya, teknologi boleh berkembang, tetapi tidak boleh memutus hubungan manusia dengan nilai-nilai:
Tauhid (kesadaran bahwa alam adalah ciptaan Tuhan),
Amanah (tanggung jawab menjaga kesuburan),
Mizan (keseimbangan ekologis),
Barokah (hasil yang membawa kebermanfaatan luas).

Pertanian Terpadu Nusantara Hijau: Dari Filosofi ke Praktik Nyata

Konsep Langitan tidak berhenti pada tataran pemikiran. Ia diterjemahkan dalam model Pertanian Terpadu Nusantara Hijau, yang menekankan integrasi antara :

1. Pertanian Organik Berbasis Kearifan Lokal
Menghidupkan kembali metode tradisional seperti penggunaan pupuk alami, rotasi tanam, dan pemanfaatan ekosistem sekitar tanpa ketergantungan bahan kimia sintetis.

2. Peternakan sebagai Mitra Ekologis
Hewan ternak diposisikan sebagai bagian dari siklus kehidupan—bukan industri terpisah—di mana kotoran menjadi pupuk, dan lahan menjadi sumber pakan alami.

3. Konservasi Air dan Tanah
Langitan mengajarkan bahwa merusak tanah berarti memutus rantai keberkahan. Oleh karena itu, pengelolaan irigasi, resapan air, dan pelestarian humus menjadi prioritas utama.

4. Pemberdayaan Masyarakat sebagai Ekosistem Sosial
Pertanian tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi pusat pendidikan karakter, ekonomi kerakyatan, dan kedaulatan pangan desa.
Menanam dengan Kesadaran, Memanen dengan Keberkahan
Ustadz Aziz Sumarno menegaskan bahwa krisis terbesar bangsa ini bukan sekadar krisis pangan, tetapi krisis cara pandang terhadap alam.

“Kita terlalu lama bertani tanpa Langitan—hasilnya banyak, tapi tidak menenteramkan. SundulWawu mengajak kembali bertani dengan ruh, agar hasilnya cukup, sehat, dan membawa keberkahan."

Dalam perspektif ini, keberhasilan pertanian tidak hanya diukur dari tonase panen, melainkan dari :
Kesehatan tanah yang terjaga,
Kemandirian petani yang meningkat,
Lingkungan yang lestari,
Kehidupan sosial yang harmonis.

Jalan Menuju Kedaulatan Pangan Berbasis Peradaban

Konsep Langitan dalam SundulWawu menawarkan alternatif penting bagi masa depan pertanian Indonesia: sebuah sistem yang tidak sekadar modern, tetapi juga berakar; tidak hanya produktif, tetapi juga beretika; tidak semata ekonomis, tetapi juga ekologis dan spiritual.

Di tengah arus globalisasi pertanian industri, gagasan ini hadir sebagai pengingat bahwa Nusantara sejak dahulu adalah peradaban agraris yang memuliakan alam sebagai sahabat kehidupan.

SundulWawu, dengan demikian, bukan sekadar metode bertani—melainkan gerakan membangun kembali hubungan sakral antara manusia, bumi, dan langit. (SundulWawu)

SUNDULWAWU DAN KONSEP “AHLI PETERNAKAN” SOSIAL:BELAJAR KEPEMIMPINAN DARI PAMOMONG SEMARPenulis : Hengky Sendyanto Pendir...
22/02/2026

SUNDULWAWU DAN KONSEP “AHLI PETERNAKAN” SOSIAL:
BELAJAR KEPEMIMPINAN DARI PAMOMONG SEMAR
Penulis : Hengky Sendyanto
Pendiri & Ketua Yayasan Banyu Biru Food Estate
Narasumber : Kang Beny Hadiyanto
Pendiri & Ketua Padepokan SundulWawu
Senin, 23 Februari 2026

Banyu Biru Food Estate - Di tengah dinamika sosial yang sering diwarnai kegaduhan, saling menyalahkan, dan kecenderungan memaksakan kehendak, masyarakat sesungguhnya sedang menghadapi krisis kepemimpinan yang bersifat batiniah. Kita tidak kekurangan orang pandai berbicara, tetapi kekurangan sosok yang mampu mengasuh kesadaran. Dalam khazanah budaya Jawa, model kepemimpinan semacam itu telah lama digambarkan melalui figur pamomong Semar.

Semar bukanlah penguasa, bukan p**a tokoh yang menonjolkan kekuatan. Ia tampil sederhana, bahkan sering dianggap jenaka. Namun di balik kesederhanaannya, Semar menjalankan peran paling penting: menggembala manusia. Ia bukan memerintah, melainkan membimbing. Ia tidak memaksa, melainkan menuntun. Ia tidak merasa paling benar, tetapi memastikan kebenaran tetap berjalan.

Di sinilah lahir relevansi konsep yang dalam kajian SundulWawu disebut sebagai “ahli peternakan sosial.”

Istilah ini tentu bukan dimaksudkan secara harfiah, melainkan sebagai metafora pendidikan masyarakat. Seorang ahli peternakan tidak memarahi ternaknya ketika menyimpang arah. Ia memahami karakter, sabar mengarahkan, menjaga ritme, dan memastikan semuanya tetap berada di jalur yang benar. Ia bekerja dengan ketelatenan, bukan dengan kemarahan.

Demikian p**a pendekatan SundulWawu.

“Sundul” adalah dorongan kecil yang terus-menerus—bukan benturan keras.
“Wawu” adalah kesadaran saat ini—perubahan yang terjadi dalam kenyataan hidup, bukan dalam wacana semata.

Artinya, perubahan sosial tidak dibangun melalui kejut-kejut yang merusak, tetapi melalui sentuhan kesadaran yang berulang, halus, dan konsisten. Metode ini menolak cara-cara konfrontatif yang hanya melahirkan perlawanan baru. Sebaliknya, ia memilih jalan pemomongan: membangunkan tanpa mempermalukan, meluruskan tanpa merendahkan.

Konsep “ahli peternakan” ala SundulWawu menegaskan bahwa masyarakat bukan objek yang bisa dipaksa berubah, melainkan komunitas manusia yang harus dipahami wataknya, dirawat akal budinya, dan diarahkan dengan kesabaran. Dalam konteks inilah Semar menjadi teladan—pemimpin yang bekerja di akar, bukan di permukaan; mempengaruhi batin, bukan sekadar perilaku.

Pendekatan ini terasa semakin penting di era modern yang serba instan. Kita terbiasa menginginkan perubahan cepat, padahal perubahan yang tergesa justru rapuh. Seperti menggembala, membangun kesadaran memerlukan waktu, kedekatan, dan keteladanan. Tidak ada keberhasilan tanpa proses ngemong.

SundulWawu mengingatkan bahwa tugas terbesar pemimpin, pendidik, dan tokoh masyarakat bukanlah memenangkan perdebatan, melainkan memastikan manusia tidak kehilangan arah. Bukan menjadi yang paling keras bersuara, tetapi yang paling sabar menjaga.

Warisan kearifan ini menunjukkan bahwa peradaban Nusantara sejak dahulu telah mengenal metode transformasi yang berakar pada etika, kesabaran, dan kebijaksanaan praktis. Sebuah cara membangun masyarakat yang tidak gaduh, tetapi mengakar.

Karena pada akhirnya, sebagaimana diajarkan pamomong Semar, manusia tidak digiring dengan kekuatan—melainkan dituntun dengan kesadaran.

Address

Dusun Kertosari RT 003 RW 004 Desa Nyamplungsari Kecamatan Petarukan Kabupaten Pemalang
Pemalang
52362

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Yayasan Banyu Biru Food Estate posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category