28/08/2017
[SECANGKIR KOPI PEMBERDAYAAN DI HARI IDUL ADHA]
Siap-siap makan daging, sebentar lagi Hari Raya Idul Adha!
Perayaan ini merupakan salah satu hari besar umat Islam yang dirayakan sebagai pucak dari ibadah haji. Mereka yang tidak berhaji pun ikut terciprat berkah. Di hari ini semua saling berbagi. Yang mampu akan berqurban dengan daging sapi, kambing, ataupun unta.
Di Indonesia, dengan penduduk mayoritas muslim, banyak p**a lembaga yang menawarkan program qurban. Tak terkecuali Rumah Amal Salman (RAS)
Namun, ada yang unik dari program qurban Rumah Amal tahun ini. Mengusung nama “Kedai Q.Urban”, program ini akan berlanjut pada pemberdayaan petani kopi. Melihat kopi telah menjadi lifestyle, Riki Ramdani, ketua program tersebut, ingin memperhatikan kesejahteraan para petani kopi.
“Setiap kali saya datang ke perkebunan petani kopi, saya belum pernah disajikan kopi asli buatan mereka,” cerita Riki. ”Saya disuguhkan kopi instan. Memang (tanaman kopi) butuh proses, tapi masa sih mereka enggak kebagian biji kopi hasil olahan sendiri?” ujar Riki, bercerita mengenai pengalamannya saat survei ke beberapa daerah pertanian di Jawa Barat.
Berkaitan dengan Idul Adha, Riki menilai adanya kesempatan untuk terjun ke daerah para penghasil kopi dengan berbagi daging qurban.
“Mereka (petani) rata-rata hanya menjual buahnya. Padahal kalau mau diproses sampai jadi biji kopi, harganya bisa jauh beda” ujar Riki.
Pendampingan akan dilakukan sampai petani bisa mengolah hasil tanaman, hingga mendapat alternatif pasar. Program ini akan dilakukan dengan kerjasama dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Mereka ingin menemukan inovasi teknologi yang dapat memudahkan proses pengolahan ataupun distribusi kopi.
***
Program pendampingan bagi para petani pun dibenarkan oleh Mediane Nurul Fuadah, mahasiswa S2 ITB yang juga tergabung dalam Narakopi. Menurutnya, bantuan yang ditawarkan pada para petani harus berkesinambungan. Bantuan seperti pemberian dana hanya membuat para petani merasa bergantung.
“Empowerment itu kan goalsnya sampai mereka punya power” ujar perempuan yang akrab disapa Ane ini.
Narakopi merupakan kelompok yang dibentuk oleh alumni program Patriot Energi. Mereka yang telah ditempatkan di desa-desa pelosok merasakan kesenjangan antara hulu (para petani) dan hilir (konsumen akhir).
“Di Desa Barumbun Toraja nggak ada sinyal, nggak ada listrik. Jalanan juga masih offroad” cerita Ane. Barumbun merupakan salah satu desa di kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Daerah ini dapat menghasilkan 300 ton kopi pertahun.
Dengan banyaknya permintaan kopi saat ini, ternyata tidak memberi dampak yang besar bagi para petani. Penjualan hasil tanaman kopi biasanya melalui tengkulak dan serangkaian proses lain. Harga petani dan harga pasar jadi jauh berbeda.
“Intinya memang poverty, dan nggak ada infrastruktur. Segalanya jadi kurang. Pendidikan yang paling dekat cuma sampai jenjang SD. Puskesmas jauh, hingga program KB tidak berjalan dengan baik. Sementara pemenuhan gizi cuma mengandalkan tanaman sayur,” tutur Ane.
Ane dan teman-temannya ingin mewujudkan sebuah koperasi kopi yang dapat melakukan perdagangan secara adil. Narakopi pun membuat program pendampingan petani. Mereka menawarkan sebuah prosedur atau SOP pengolahan kopi pada para petani.
Hasilnya akan dibeli oleh Narakopi untuk kemudian dijual di ibukota. Saat ini mereka tengah melakukan pendampingan di dua desa, yaitu Minanga di Mamasa dan Barumbun di Tana Toraja.
Pendampingan petani tak selamanya berjalan mulus. Kurangnya tingkat pendidikan biasanya membuat petani berpikir dengan sederhana, dan tidak ingin mengubah cara mereka selama ini.
“Kalau sudah begitu kita nggak bisa apa-apa. Yang paling manjur adalah saran dari teman mereka kepada mereka sendiri. Jadi kalau ada satu petani yang sudah mau mengolah dengan baik, tunjukan saja hasilnya nanti,” ujar Ane.
Penyelesaian pada masalah hulu tentu perlu diimbangi dengan usaha daerah hilir. Ane menghimbau agar masyarakat bijak dalam membeli kopi. “Belilah kopi dari penjual yang melakukan direct fair trade, bukan hanya untuk mensejahterakan petani tapi juga untuk rasa hormat kita terhadap sesama.”
----------------------------------------------------------------
Mari Berqurban di Rumah Amal Salman Salman "Berdayakan Petani Kopi di Pelosok Negeri"
Hubungi :
0811-222-8333