15/02/2026
Hilangnya burung pleci Enggano dari alam liar mulai menimbulkan dampak serius bagi keseimbangan ekosistem. Di sejumlah wilayah pertanian di Pulau Enggano, Bengkulu, terutama lahan jagung, para petani mengeluhkan gagal panen akibat serangan hama yang meningkat drastis. Burung kecil yang dulu dianggap biasa saja itu ternyata memiliki peran penting sebagai pengendali alami serangga perusak tanaman.
Selain memakan buah-buahan kecil, pleci enggano adalah pemangsa serangga. Termasuk ulat yang menjadi hama di tanaman jagung petani setempat. Dalam satu hari, seekor pleci bisa memangsa puluhan hingga ratusan ulat yang ada di tongkol-tongkol jagung. Ketika populasinya menurun akibat perburuan dan perdagangan liar, rantai ekosistem pun terganggu. Hama seperti ulat grayak berkembang tanpa kontrol alami, menyerang tanaman jagung hingga membuat tongkol gagal terbentuk sempurna.
Pleci Enggano sendiri merupakan burung endemik yang habitat aslinya berada di Pulau Enggano, Bengkulu. Keunikan warna dan kicauannya membuat burung ini diburu untuk dipelihara. Jika eksploitasi terus terjadi tanpa pengawasan, bukan tidak mungkin spesies ini benar-benar punah di alam liar.
Para pegiat konservasi mengingatkan bahwa menjaga populasi burung bukan hanya soal melindungi satwa, tetapi juga menjaga ketahanan pangan. Ekosistem yang seimbang membantu petani secara alami tanpa biaya tambahan. Rehabilitasi habitat, penegakan hukum terhadap perburuan liar, serta edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting untuk mencegah kerugian yang lebih besar.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa hilangnya satu spesies kecil dapat membawa dampak besar bagi kehidupan manusia. Jika pleci Enggano terus menghilang, bukan hanya suara alam yang sunyi, tetapi juga ladang jagung yang terancam gagal panen.
Sumber : Red Panda ID