Arsad Idrus

Arsad Idrus Arsad Idrus adalah Petani Sejak Lahir, Pekerjaan Turunan dari Orang Tua Petani. Tinggal di Jakarta sejak 2006.

Nyambi sebagai Tenaga Ahli Anggota DPR RI 2009-2019. Pernah nyaleg DPR RI 2019. adalah Visi, Impian, Gerakan & Tekad

Sebuah kehormatan diundang sebagai pembicara dalam acara Bloomberg NEF Summit, salah satu side event di G20 dan B20, di ...
12/11/2022

Sebuah kehormatan diundang sebagai pembicara dalam acara Bloomberg NEF Summit, salah satu side event di G20 dan B20, di Nusa Dua Bali pada hari ini, 12 November 2022.

Berbagi pengalaman tentang berbagai upaya yang telah dilakukan di Jakarta selama 2017-2022 dalam menghadapi perubahan iklim.

Jakarta telah berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 26% pada 2020, ini bahkan melampaui target penurunan 30% di 2030.

Pencapaian luar biasa ini dimungkinkan berkat 3 prinsip yang selalu kita pegang:
1. Selesaikan dari akar masalahnya: mengubah kota yang tadinya car oriented development menjadi Transit Oriented Development.
2. Kolaborasi adalah kunci: kami berkolaborasi dengan berbagai organisasi, pemangku kepentingan, dan mengajak warga kota terlibat juga.
3. Evidence-based policy: pengambilan kebijakan harus selalu berdasarkan pada data dan ilmu pengetahuan. Meminta mas**an dari para ahlinya, termasuk belajar dari kota/ negara lain di dunia yang juga menghadapi masalah serupa.

Dan yang paling penting, harus ada kemauan politik yang kuat (strong political will) untuk menerjemahkan kebijakan menjadi aksi dan tetap dalam jangkauan kemampuan fiskal kita.

G20 memiliki peran yang menentukan dalam upaya kita menghadapi krisis iklim. Maka diperlukan integrasi vertikal antara pemerintah nasional dengan pemerintah-pemerintah lokal. Setiap kebijakan di tingkat lokal harus selaras dengan kebijakan dan target di level nasional.

Anies Rasyid Baswedan

Ayo Belanja di Warung Tetangga. Hari ini tanggal 10 November, peringatan Hari Pahlawan. Kata Bahlil Lahadalia, Menteri I...
10/11/2022

Ayo Belanja di Warung Tetangga.

Hari ini tanggal 10 November, peringatan Hari Pahlawan. Kata Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi dan Penanaman Modal, pahlawan sesungguhnya adalah pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Sektor Informal.

Dua tahun terakhir ini, ketika Bencana Pandemi Covid 19 melanda, yang tetap beroperasi dan menggerakkan ekonomi Bangsa adalah pelaku sektor informal dan UMKM. Pada saat yang sama, pelaku usaha besar, Corporasi dan Industri justru berhenti beroperasi, bahkan banyak yang melakukan Pemberhentian Hubungan Kerja (PHK) terhadap puluhan ribu Karyawan.

Pada kuartal terakhir tahun ini, pertumbuhan Ekonomi Indonesia mencapai 5,7 persen yang pada masa pandemi mengalami kontraksi dan stagnasi, bahkan pernah dengan tingkat pertumbuhan yang Minus.

Geliat ekonomi saat ini berkat sumbangsih peran besar UMKM dan sektor informal yang tetap survive ditengah bencana. Ini menunjukkan, bahwa penopang sesungguhnya ekonomi bangsa adalah kegiatan ekonomi rakyat bawah, rakyat kebanyakan seperti kita, tetangga tetangga kita. Bukan kelompok pengusaha besar, bukan kaum the have, bukan para sultan atau Crazy Rich.

Pada masa masa akan datang, para ekonom memprediksi, situasi ekonomi akan mengalami masa masa sulit, Resesi kata para ahli. Bahkan Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa ekonomi tahun depan akan Gelap. Tentu ini kabar buruk untuk semua.

Namun, dengan pengalaman masa pandemi yang lalu, dan masa masa sulit ekonomi sebelumnya, kita dapat belajar, bahwa penopang ekonomi agar tetap bergerak, bertahan dimasa masa sulit, bahkan bertumbuh, adalah pelaku ekonomi mikro kecil dan sektor informal. Untuk hal itu, sebagai sesama rakyat biasa, kita perlu mendukung para pahlawan ekonomi bangsa tersebut.

Beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk saling menopang ekonomi dilapisan bawah tersebut bukanlah hal yang terlalu sulit dilakukan. Tetap berbelanja kepada warung tetangga, membeli bakso dan makanan yang dijajakan keliling, ngopi diwarkop warkop, tidak sering dan berhutang terlalu lama (cepat lunasi kalau berutang diwarung. Hehehe) sudah sangat membantu para pahlawan Ekonomi tersebut.

Belanja di warung tetangga, diwarkop tetangga, dirumah rumah makan tetangga, dikios kios tetangga, harus diutamakan dari pada belanja Online di dalam aplikasi Market Place. Apalagi kalau belanja metode COD (cash on delivery), itu lebih mahal. Menguras dompet anda lebih banyak sebagai konsumen. Sebaiknya ditetangga saja, lagian bisa nawar dikit.

Untuk para Pahlawan Ekonomi, tetaplah berusaha meski sulit, beban berat sejatinya akan membuat kita kita semakin kuat. Insya Allah. Amin



10/11/2022

Pagi ini bersama Ibu memberi makan Ikan Koi. Kemudian kami ngobrol soal burung Jalak Suren, hadiah kenang-kenangan dari warga Kampung Susun Akuarium.

Ibu adalah pengajar yg hingga kini masih terus mengajar. Tiap hari Jumat adalah jadwal beliau memberi kuliah. Ibu, Prof. Dr. Aliyah M.Pd dan Almarhum Ayah, Drs. Rasyid Baswedan, SU, keduanya mengajar selama lebih dari 50 tahun. Sehingga muridnya tersebar di mana-mana.

Itulah yg saya rasakan. Saya sering mendengar cerita betapa mereka berdua dianggap sebagai pahlawan bagi murid-muridnya. Ke kota manapun saya pergi, hampir selalu berjumpa dengan seseorang yg mengatakan: “Pak Anies, saya muridnya Alm. Pak Rasyid.”

Saya hadir dalam sebuah acara di Makasar, seorang ibu mendekat dan menjabat amat erat, matanya berbinar dan berkaca-kaca, “Pak Anies, saya muridnya Ibu Aliyah. Saya dibimbing tahun 80an dulu.”

Setiap jumpa, mereka selalu cerita pengalaman saat diajar, dibimbing ketika masih kuliah di Jogja dan bagaimana didikan itu mereka rasakan manfaatnya hingga kini.

Kemarin saat ke Medan, saya bertemu lebih dari 5 orang yang cerita bahwa mereka murid Alm. Ayah. Bahkan salah satu kerabat dalam di Istana Maimun itu menyapa dan cerita, “dulu saya bimbingan skripsinya oleh Alm. Ayah.”

Tadi pagi, saya hadir di JCC. Ada seorang angggota DPRD dari Kalimantan Selatan menyeruak ke depan sekadar untuk mengatakan dengan rasa haru, “saya muridnya Almarhum Pak Rasyid! Senyumnya saya ingat terus.”

Kebahagiaan Ibu dan Alm. Ayah itu sama. Mereka bahagia saat ada muridnya datang menyapa, silaturahim. Ibu selalu senang jika mendengar cerita tentang murid-muridnya yg saya temui di berbagai kota di tanah air. Di situlah kebahagaiaan terbesar bagi seorang guru, bagi seorang pendidik.

Pahlawan adalah orang yang memberikan manfaat bagi pribadi-pribadi yang ada di sekitarnya. Tak selalu namanya terpampang. Tidak selalu dikenal oleh orang banyak.

Tapi mereka yang merasakan, pasti mengetahui bahwa jasanya berbekas dalam setiap langkah, kemajuan dan kebaikan yang mereka alami. Saya beruntung pagi ini bisa mendampingi seorang pribadi yg menjadi pahlawan bagi murid-muridnya yg tersebar di seluruh tanah air.

Selamat Hari Pahlawan!

Golkar; On The Track menuju Partai Guremhttps://nasional.kompas.com/read/2022/10/25/13072321/survei-litbang-kompas-demok...
30/10/2022

Golkar; On The Track menuju Partai Gurem

https://nasional.kompas.com/read/2022/10/25/13072321/survei-litbang-kompas-demokrat-salip-golkar-pdi-p-tetap-teratas

Dalam survei tersebut, PDI-P masih menjadi partai dengan jumlah pemilih terbanyak pada Oktober 2022, yakni 21,1 persen. PDI-P disusul oleh Gerindra dengan suara 16,2 persen.

Menariknya, posisi ketiga kini bukan diisi oleh Partai Golkar lagi. Demokrat menjadi partai yang menyalip Golkar.

Demokrat bertengger di posisi tiga dengan suara mencapai 14 persen. Golkar berada persis di bawah Demokrat, dengan pemilih 7,9 persen.

10/07/2020

Tanda Tanya, Si Oneng Iki Sopoto Rek??

Beberapa Hal yang Menonjol Soal Rieke Diah Pitaloka, Si Oneng.

1. Terkenal Melalui Peran sebagai Oneng dalam Komedi Situasi Bajai Bajuri. Sebagai istri yang polos cenderung Oon atau Oneng seperti namanya. Perannya Oke.

2. Menjadi Ketua Pansus Pelindo 2 yang mengakibatkan Menteri BUMN Rini Seomarno ditolak Rapat dikomisi VI DPR RI selama 5 tahun (periode 2014-2019).
Mungkin ada yang gak tau, Rini Soemarno menteri BUMN cuma sekali rapat dengan Komisi VI DPR RI sebagai mitra Kementerian BUMN, akibat pansus Pelindo 2 yang dipimpin “Si Oneng” ngotot merekomendasikan kepada Presiden mencopot menteri BUMN. Karena rekomendasi itu tidak dipenuhi Presiden, Rini Soemarno Ditolak Rapat di DPR sampai berakhir periode pertama Jokowi.

3. Si Oneng menjadi Ketua Panja (panitia kerja) RUU HIP yang heboh. “Tradisi” di DPR RI, Panja RUU Inisiatif DPR RI biasanya dipimpin oleh pengusulnya (pengusul pribadi maupun fraksi). Informasi dari Tirto.id hilangnya TAP MPRS sebagai landasan RUU HIP terjadi ketika rapat pembahasan Panja dipimpin langsung Si Oneng.

Sekarang Si Oneng ditarik dari jabatan Wakil Ketua Baleg dari FPDIP DPR RI. Meski begitu, kurang dari 10 tahun terakhir, Si Oneng telah 2 kali “menggemparkan“ nasional yang temanya terkait erat dengan isu ketatanegaraan.

1. Macetnya Koordinasi Eksekutif - Legislatif, Menteri Rini tak bisa Rapat dengan DPR RI, sehingga DPR RI tak dapat memaksimalkan fungsinya [pengawasan - Budgeting - legislasi] dengan menteri BUMN secara langsung. Padahal kementerian BUMN sangat strategis artinya.

2. RUU HIP ditolak publik termasuk NU - Ormas Islam terbesar di Indonesia dan banyak lagi Ormas dan Organisi sipil sosiety lainnya dengan alasan RUU HIP justru mengkerdilkan pancasila bahkan akan mengubahnya menjadi sesuatu yang sangat berbeda. Si Oneng ketua Panjanya.

Siapa Si Oneng ini sesungguhnya?

https://m.kumparan.com/berita-selebritis/dicopot-pdip-dari-baleg-ini-sederet-kontroversi-rieke-diah-pitaloka-di-dpr-1tllsOMzLSj

Media Sosial, Bukan Media Personal"Luapan perasaan pribadimu dimedia sosial, tak mengubah apapun dalam kenyataan". Topik...
24/06/2020

Media Sosial, Bukan Media Personal

"Luapan perasaan pribadimu dimedia sosial, tak mengubah apapun dalam kenyataan".

Topik ini sudah pernah saya sampaikan beberapa tahun lalu (lupa tanggal pastinya, tapi yakin ada diberanda saya, tunggu FB mengingatkan kenangan saya. Hehehe).

Satu diantara Mata Kuliah yang saya s**ai pada Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi (saya ini mahasiswa loch, yang gak tau kapan selesai, wkwwkwk) adalah mata kuliah MEDIA BARU.

Media Baru adalah pelajaran tentang Media Massa yang lahir dari perkembangan IT yang sangat Massif beberapa dekade terakhir. Contohnya Facebook, Twitter, Blog, Instagram, Youtube dan banyak lagi media sejenis. Karena ciri ciri tertentu, Media Baru ini lebih dikenal sebagai Media Sosial.

Dulu, Media seperti Surat Kabar, Tabloid, Majalah, TV dan Radio dikenal sebagai Media Massa, Bukan Media Sosial. Beberapa penjelasan soal perbedaan ini karena produksi informasi pada Media Massa bersifat searah) (oneway traffic) ; Private ke Publik (dari wartawan atau pemilik perusahaan media kepada khalayak).

Pada Media Sosial, produksi informasi dari Publik ke Publik ; twoway traffic, bahkan ada istilah disruption traffic (produksi dan repreduksi informasi gak jelas juntrungannya, dari segala arah, uncontrol dari akun kepada akun lainnya secara massif).

Tentu ada teori lain soal istilah Media Massa dan Media Sosial, yang diatas adalah salahsatunya saja.

Menariknya mata kuliah ini (menurut saya), karena belum pernah terjadi dalam sejarah peradaban manusia Produksi dan reproduksi informasi semassif saat ini.

Informasi menjadi komoditas bisnis yang meningkat nilainya berlipat-lipat dibanding masa lalu, dengan tingkat partisipasi manusia, nomor 2 terbanyak di muka bumi (dugaan saya begitu, saya belum menemukan hasil riset ilmiahnya) setelah komoditas pangan dan sandang.

Informasi adalah urusan yang melibatkan manusia terbanyak kedua dimuka bumi setelah pangan dan sandang. Amazing gak seehh!! Ternyata, Keponya manusia betul betul menjadi bisnis yang menggiurkan dan menjanjikan.

Kembali kepada topik pada judul di atas ; Media Sosial, Bukan Media Personal. Bagi saya, seperti ulasan singkat di atas, penting mendudukkan secara proporsional siapapun diri kita dalam beraktivitas di Media Sosial.

Semestinya, seperti namanya Media SOSIAL, maka sudah sepantasnya segala bentuk partisipasi, peran dan aktivitas kita pada media baru ini adalah untuk urusan SOSIAL, bukan urusan personal (pribadi pribadi).

Tentu tak akan ada kesamaan apalagi keseragaman ukuran soal sosial dan personal, tapi minimal, masing masing kita punya standar "pikir dan rasa", masihkah kita pada track sosial atau sudah sangat jauh mengumbar hal hal personal. Kita ukur masing masing saja. Biar ada standar, kira kira (ini kira-kira loch ya) rumusnya begini ;

1. Tanggapan Sosial untuk urusan Sosial (penulis sebagai pihak ketiga/pengamat)

2. Tanggapan Personal untuk Urusan Sosial (penulis menanggapi sesuai pribadinya hal hal menyangkut urusan sosial/kepentingan publik, misalnya Akun Media Sosial Si Beddu (pribadi) menanggapi tentang Kenaikan Tarif BPJS (urusan sosial).

3. Urusan Sosial ditanggapi secara personal karena terdampak langsung (misalnya kebijakan zonasi sekolah kaitannya dengan Umur anak Didik; karena kebijakan ini, akhirnya Anak Si Beddu jadi tidak dapat bersekolah atau menjadi kerepotan karena dapatnya sekolah yang jauh padahal ada sekolah disamping rumahnya)

Menurut saya, 3 (tiga) rumus situasi di ataslah yang tepat dan bijak diungkapkan, disampaikan, dipersoalkan pada Media Sosial.

Apa hal yang semestinya tidak boleh dan haram hukumnya diungkapkan pelaku media sosial yang SADAR dan KEREN (kalau gak sadar dan gak keren.. gak apa-apaji. Siapa tau lagi teler sambil bikin status. Hahaha). Menurut saya sbb :

1. Urusan Pribadi kepada Pribadi yang lain (apapun itu, karena ini media sosial bukan media pribadi, misalnya ; kemarahan, kesedihan, putus cinta, kecewa, utang gak bayar dan... silahkan ditambahkan pada kolom komentar. Hahaha) intinya sesuatu urusan yang gak ada faedahnya untuk kepentingan publik/sosial.

2. Urusan Pribadi yang tidak ditujukan kepada siapa pun selain kepada dirinya sendiri.
Apa ya Contohnya.. pokoknya itulah.. isi dokolom komentar lagi ces. Hahaha

So, saudara saudara sekalian sebangsa dan setanah air (saya ingat pak Harto yang sering menggunakan kalimat ini, semoga dilapangkan kuburnya.Amin). Ini eranya media sosial, bahkan nenek nenek dipelosok juga ngotot IG nya di Folback. Maksud saya, kita semua adalah pelaku media sosial yang mestinya sadar dan keren dalam bermedia sosial agar generasi kita (generasi sosmed) lebih keren dari gemerasi sebelumya.

Isilah timeline, beranda dan segala macam Wajah Media Sosialmu dengan sepantasnya dan sekeren kerennya yang kamu bisa, syukur- syukur postingan dan update statusmu dapat mengubah keadaan sosial menjadi lebih baik.
Sesungguhnya apapun perasanmu, suasana hatimu, tantangan hidup, untuk kepentingan pribadimu, mungkin lebih tepat kita simpan untuk pribadi kita saja karena luapan perasaan pribadimu dimedia sosial tak mengubah apapun dalam kenyataan. So Keep Silent Brother. Tariklah energi positif semsta dengan menampilkan yang Bahagia, gembira dan cakep saja. Hehehe.

Catatan ; Gambar diperankan oleh Model sesuai Kepentingan Skenario, tampilkan yang bahagia saja. Hahahaha

Met Ultah Pak Presiden, Semoga 2024 Cepat berlalu. Selamat Ulang Tahun Ya Pak, sejak kemarin sebenarnya mau nulis ucapan...
22/06/2020

Met Ultah Pak Presiden, Semoga 2024 Cepat berlalu.

Selamat Ulang Tahun Ya Pak, sejak kemarin sebenarnya mau nulis ucapan ultah buat Bapak, cuma bingung mau nulis apa.

Saya buka buka berita, nyari data data, mengutak atik postingan BPS, bawaannya menyedihkan semua. Padahal bapak kan lagi Ultah ya, mestinya kan bergembira.

Ya udahlah Pak, saya buat ucapan sekarang aja, takutnya lewatnya kelamaan. Harapan saya ;

1. Semoga Bapak Sehat Selalalu. Amin

2. Semoga 2024 cepat berlalu ya Pak, biar bapak gak banyak pusing dan direpotin. Amin

3. Semoga ditahun 2024 nanti dan seterusnya, tidak banyak lagi konten konten prank ya pak. Bosan liat plotnya, bagusan skenario sinetron hidayah. Amin

Catatan ; Foto Agar Makin Keren, Namanya juga Presiden Gaul, mosok gak pake FaceApp.

RUU Haluan Ideologi Tidak DiperlukanKalau yang dibuat Soekarno dan kawan kawannya itu adalah IDEOLOGI dengan rumusan seb...
18/06/2020

RUU Haluan Ideologi Tidak Diperlukan

Kalau yang dibuat Soekarno dan kawan kawannya itu adalah IDEOLOGI dengan rumusan sebanyak "Pancasila", dan dapat diperas menjadi "Trisila" bahkan dapat menjadi "Ekasila", maka sebagai Muslim, 1000 persen IDEOLOGI saya bukan ini, tentu IDEOLOGI saya ISLAM, dan inysa Allah saya Ikhlas mati dalam pandangan ini.

Bagi yang pernah belajar Ideologi, pasti paham bahwa ini tidak membawa dalam perdebatan Awam yang clasic; mempertentangkan Pancasila dan Islam, tentu akan sangat Paham bahwa mempertentangkan hal tersebut seperti membandingkan Air Keringat dengan Lautan.

Jika diperlukan Suatu Panduan untuk memahmi Ideologi, maka sebagai Muslim, Panduan itu bukanlah rancangan yang disusun oleh pihak pihak atau institusi semacam Rezim Kekuasaan apalagi Hanya lembaga Legislatif dengan kapasitas yang sangat dipertanyakan. Panduan itu telah disiapkan dari Empunya Kehidupan yakni Al Quran Karim. Tentu saja ini tak dapat diperas peras menjadi semakin sedikit Silanya. "diperas peras, ente pikir banteng, eh..sapi perah?"

Maka RUU Haluan Ideologi Pancasila wajib ditolak, Pancasila cukuplah menjadi Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang tak dibatasi terjemahan, tafsir dan haluannya oleh Rezim dan Anggota Legislative.

"Ente ente ini siapa seeh, kayak pinter aja"

Asseeemmm..! Ternyata Dia Admin. Disuatu Grup WA, seseorang mengirimkan Gambar orang lagi membagikan Sembako. Bukan cuma...
02/06/2020

Asseeemmm..! Ternyata Dia Admin.

Disuatu Grup WA, seseorang mengirimkan Gambar orang lagi membagikan Sembako. Bukan cuma satu tapi banyak Gambar.

Seperti biasa, dalam gambar ada yang menyerahkan dan menerima kantongan kresek. 2 orang yang kontras secara penampilan.

Dari chat diskusi, infonya kresek berisi Beras, indomie, dan minyak Goreng. Katanya ini bantuan menghadapi wabah covid dari seorang anggota DPRD Kota di Jawa Barat.

Banyak anggota grup yang menanggapi postingan foto ini, kebanyakan bercanda, prihatin covid, dan beberapa tanggapan nyeleneh lainnya.

Satu orang menanggapi semua chat dengan marah, menyesalkan dan seperti tidak ikhlas soal pembagian sembako ini. Intinya protes kepada seseorang, ntah siapa. Hampir semua candaan anggota Grup dibalas dengan jutek, cenderung marah dan melawan debat, pokoknya asal beda. Begitulah saya baca, setelah chat saya scroll keatas.

Karena Chat sudah banyak banget dan saya tak dapat menemukan inti persoalan, saya chat Japri seorang anggota Grup yang aktif diskusi dan saya kenal.

Dari chat Japri itulah saya tahu pokok bahasan terkait gambar-gambar tadi. Ternyata yang sengit ingin berdebat adalah mantan tim sukses seorang caleg. Foto yang dikirim kegrup adalah Foto Anggota DPRD lain yang satu dapil dengan Caleg yang diusung oleh si Bapak. Beliau Kecewa karena Anggota DPRD yang beliau usung tidak membagikan sembako seperti caleg saingannya. Dia protes, merasa calegnya gak benar, sudah menang tapi gak membantu sembako masyarakat didapilnya, terutama dalam menghadapi wabah Covid.

Merasa mulai paham topik diskusi, dan pengen nimbrung diskusi, saya menuliskan chat dari persepektif lain.

"Mungkin beliau masih sibuk, belum sempat berkunjung kedapilnya", atau lagi mempersiapkan sembako juga, lagian repot nyari sembako dalam jumlah banyak sekarang". Begitu chat yg saya tulis, Kemudian saya kirim.

Dari layar Hp saya, si bapak langsung typing pesan, dan beberapa orang. dia lagi nulis Tanggapan, pikirku. Karena lama, mungkin dia menulis banyak, saya tambahkan lagi chat saya.

"Lagian, Tugas Anggota Dewan Kan bukan bagi bagi sembako". Chat langsung saya kirim. Sebelum ada balasan.

Tiba tiba.. Anda Telah dikeluarkan... olehh.. .......

Hahahahaha. Bapaknya emosi, saya dikeluarkan dari Grup. Asseeemm Banget. Ternyata Dia Admin.

Apa Gak Malu dengan Meme di Medsos?Beredar Ejekan, Sindiran dan Kalimat sarkas tentang  nihilnya Peran Partai Politik, d...
23/03/2020

Apa Gak Malu dengan Meme di Medsos?

Beredar Ejekan, Sindiran dan Kalimat sarkas tentang nihilnya Peran Partai Politik, dalam upaya memerangi penyebaran Virus Covid-19. "Dulu gak butuh, kami dibagikan. Sekarang kami butuh, kalian kemana saja?" Begitu salah satu ungkapan yang banyak beredar di media sosial. Gambarnya, Logo Partai Palitik. Sebagai Kader Parpol, saya paham ungkapan ini, saya juga setuju, dan atas itulah saya menulis status ini. Harapan saya, selaku kader pinggiran sebuah Parpol, Status ini sampai kepada orang penting partai saya dan partai partai yang lain.

Kembali pada peran Parpol, Sejauh ini, Tak ada gerakan nyata dari parpol sebagai moveman organisatoris untuk ambil bagian dalam menghadapi bencana virus covid-19. Kalau toh ada upaya yang berwarna parpol, bagi bagi masker misalnya, tak lebih dari action individu kader dan anggota partai yang skalanya sangat terbatas dan spontan. Tak ada partai politik yang melakukan Rapat Nasional misalnya untuk mengambil langkah strategis partai dalam menyikapi wabah virus ini. Bahkan (setahu saya), tak ada semacam instruksi yang bersifat nasional dari partai politik yang wajib dijalankan semua pengurus Parpol diseluruh tingkatan kaitannya dengan partisipasi menghadapi wabah Virus Covid-19.

Tak ada satupun Parpol yang mengeluarkan instruksi wajib yang disertai ancaman pemecatan kepada pengurus dan kader jika tak menjalankan kebijakan tersebut terkait penanganan Virus Covid-19, sebagaimana biasanya, Parpol membuat kebijakan dan Ancaman kepada pengurus dan kadernya jika tak menjalankan instruksi Partai. Misalnya, urusan memasang Spanduk dan Baliho Capres dukungan dalam pilpres. Misalnya, Kader dan Pengurus wajib mendukung calon usungan partai dalam pilkada. Semua hal- hal itu, selalu sepaket dengan Instruksi dan ancaman dari kepengurusan Parpol ditingkat pusat. Bahkan keseriusan parpol mengurusi hal hal seperti ini, dilakukanlah rapat rapat berjenjang hingga ketingkat nasional untuk membahas dan meyelaraskan gerakan semua simpatisan, anggota, kader, dan pengurus disemua tingkatan. Artinya, Hal hal itu, selalu ada gerakan "moveman" kelembagaan untuk dijalankan.

Untuk urusan bencana Wabah Virus Covid-19 yang potensial mengancam jutaan nyawa anak bangsa, parpol tak sesengit itu, bahkan belum ada langkah kongkrit. Tak ada rapat rapat, tak ada surat, tak ada ancaman, sepi sepi saja. Mungkin dipandang tak penting, atau tak perlu dipikirkan apalagi mengeluarkan energi untuk moveman kelembagaan parpol mengurusinya.

Di Media Sosial, Partisipasi Tokoh tokoh Parpol terkait urusan Wabah Covid-19 tak lebih dari memasang foto-foto keren dan ungkapan-ungkapan motivasi, prihatin dan semacamnya. Jika diperhatikan, poin utama partisipasinya adalah numpang tenar untuk figur pribadinya, bahkan terkesan asal tak melewatkan momentum untuk mendapatkan predikat sebagai orang yang "peduli" dan "sadar" moment. Gerakan sebagai lembaga Partai Politik untuk menolong rakyat banyak masih Nol besar.

Kalimat sarkas dan gambar gambar nyeleneh, sindiran kepada Partai Politik adalah kritikan pedas sekaligus ungkapan kekecewaan publik kepada partai politik. Partai Politik tak hadir ketika rakyat benar benar butuh pertolongan, butuh gerakan politik yang massif untuk mengulurkan tangan, memberi bantuan yang nyata, senyata ketika suara mereka dibutuhkan untuk kepentingan kekuasaan.

Sejauh ini, Beginilah tampak wajah Partai Politik dinegeri ini. Tak terkecuali, semuanya seperti itu. Partai Nasionalis, Religius, Nasionalis-Religius, Partai Penguasa, setengah penguasa, oposisi, sama saja, urusan kepedulian, membantu secara ril rakyat terkait wabah covid-19 adalah Nol Besar. Action partai politik soal Kepedulian kepada Rakyat terhadap dampak Wabah Covid-19 berbanding terbalik dengan urusan Pilkada, Pileg dan Pilpres misalnya. Mungkin beginilah wajah sesungguhnya Partai Politik, rakyat banyak, silahkan belajar dan mengambil Hikmah, mungkin kedepan akan berguna.

Kepada Petinggi Partai Politik, untuk urusan Wabah Virus Covid-19, mana neeh Surat Instruksi dan ancaman pemecatannya, biasanya pecat memecat diumbar, mungkin sekarang saat yang tepat, Apa gak Malu sama meme di medsos?

Arsad Idrus

MENJADI WARGA SIPILTelah dihimbau Pemerintah Republik Indonesia untuk melakukan Social Distancing; Pembatasan Sosial,  t...
20/03/2020

MENJADI WARGA SIPIL

Telah dihimbau Pemerintah Republik Indonesia untuk melakukan Social Distancing; Pembatasan Sosial, tujuannya untuk mengurangi penyebaran Covid-19. Prakteknya mengurangi, membatasi bahkan meniadakan kumpul kumpul, nongkrong, ngopi bareng (misalnya..), bahkan Sholat Jumat, serta berbagai bentuk interaksi berkelompok yang melibatkan banyak orang.

Dinegara lain, beberapa menerapkan metode berbeda, Di China Misalnya, pemerintahnya mengisolasi beberapa Kota, melarang Warganya keluar dan masuk kewilayah pandemi virus. Di Malaysia dan Italia juga dilakukan seperti di China.
Metode lain dilakukan Korea Selatan, Tak ada pembatasan atau Isolasi, tetapi semua orang diperiksa, dicek untuk menemukan orang yang terpapar virus. Korea Utara Lain lagi, diperbatasan negara tentara menjaga 24 jam, Semua yang lewat ditembak mati, praktis Efisien, tak akan ada penyebaran Virus, manusianya saja tak berani melewati perbatasan, apalagi virus.

Begitulah masing masing negara punya Pola sendiri, style kebijakannya sendiri, yang tentu saja (semestinya) telah dikaji sedemikian rupa sebelum dijalankan.

Sebagai Warga +62, menarik memikirkan dan menyoroti pendekatan Pemerintah RI dalam menangani penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Beberapa hari terakhir, Himbauan Social Distancing telah disampaikan Pemerintah. Bukan Lockdown atau Isolasi, belum ada pemeriksaan Massif, apalagi tembak menembak seperti gaya Korut. Hanya Himbauan Social Distance.

Bagaimana tanggapan Masyarakat? Seperti biasa, Kita semua dapat melihat, reaksi yang beragam, mayoritas tak peduli, sebagian menantang, sebagian menyerang kebijakan ini sebagai langkah bodoh dan goblok pemerintah, hanya sebagaian kecil yang menjalankan.

Dari Pengamatan update status di sosial media, himbauan tidak dipatuhi, lebih banyak dikritik, bahkan kebijakan 2 minggu bekerja dari rumah dan belajar dari rumah bagi msyarakat dan pelajar banyak dimanfaatkan untuk plesiran ketempat wisata; berlibur.

Umat beragama juga sama, kegiatan ceremonial Umat masih berlangsung dengan konsentrasi massa dalam jumlah yang sangat banyak.

Kejadian lain tentang pembangkangan terjadi juga pada lembaga lembaga otoritas keummatan seperti MUI. Fatwa menjadi kurang mumpuni, tidak sakti untuk mengatur ummatnya sendiri.

Kembali pada Himbauan Social Distance, mobilitas Warga negara masih sangat tinggi pasca himbauan dikeluarkan, ini dapat berarti bahwa tujuan mengurangi penyebaran virus dengan metode ini sangat mungkin tidak efektive alias gagal.

Semoga saya salah. Tapi seandainya benar, maka dampaknya dapat dilihat beberapa hari kedepan, jika virus tak dapat dibendung penyebarannya, maka jumlah Pasien yang menderita Covied-19 akan meningkat tajam. Semoga masih dalam skala terkontrol.

Hal lainnya, jika kebijakan "soft" menghimbau social distance gagal, maka semestinya ada kebijakan baru yang lebih "hard" dari pemerintah, kita tunggu saja.

Secara pribadi, bagi saya, kebijakan pemerintah menghimbau Social Distance merupakan kebijakan yang tepat, semestinya dan seharusnya dilakukan, bukan (sebelum) kebijakan yang lain seperti Lockdown misalnya.

Langkah ini sesungguhnya menunjukkan jati diri pemerintahan sejak era reformasi. Bahkan sangat mungkin baru saat inilah "jati diri" itu diuji.

Jati diri pemerintahan Sipil. Kebijakan kebijakan yang sipil aproach, non Militer Aproach, Non Combatan. Seperti Himbaun Social Distance ini.

Himbauan Social Distance, sebagai kebijakan melawan penyebaran Virus adalah style soft Pemerintah sebagai Watak pemerintahan Sipil.

Ujiannya tentu saja kepada warga negara, apakah watak sipil itu telah menjadi watak warga negara atau masih dengan Style dulu (Orde Baru/Militer Rezim).

Apakah kesadaran sipil kita juga mengikuti perubahan Rezim, Orde Baru ke Reformasi atau masih tertinggal dalam watak yang sama.

Jika Himbauan tak berefek, membangkan bahkan melawan, sangat mungkin, watak kita perlu segera direformasi, agar tak tertinggal terlalu jauh dari reformasi pemerintahan. Jika kebijakan "Soft" seperti Himbauan Social Distance seperti saat ini dengan style civilitation aproach, tak mempan kepada warga negara kita, maka kebijakan yang lebih "Hard" seperti Kebijakan Lockdown/isolasi dengan Militer (Combatan) Aproach mungkin yang masih cocok dengan watak kita.

Ini berarti, Reformasi belum menyentuk Watak Kita sebagai Warga Negara yang civilian; warga sipil, watak kewarga negaraan kita masih watak "army" militeristik. Masih "Patah-patah", Masih "Bau Laras", Masih "Popor Senapan", Masih "Loreng Combatan"

Tentu ini bukan soal benar salah, apakah Sipil atau militer, ini soal pilihan kita berbangsa dan bernegara, reformasi telah menggiring dan mengantarkan kita pada arah yang lebih Sipil dalam bernegara, memisahkan Militer Kita pada urusan urusan khusus, special dan Tools Sipil dalam bidang pertahanan. Tentu saja, kita harus total dan kaffah menyerahkan urusan itu kepada para prajurit kita tercinta, untuk kita sendiri, semestinya menjadi sipil yang Kaffah.

Beberapa hari kedepan, kita sebagai warga negara, dapat menguji secara langsung, kesadaran kita, sudahkah mempan dengan yang "soft", yang halus halus, atau masih perlu dengan yang "Hard", yang keras dan tegas, nuansa bunyi kokang senjata, suara derap langkah Laras Tentara.

Lebih Sipilkah warga negara kita atau masih mau mengambil alih watak, style dan tugas tentara. Kesadaran Combatan.
Saya lebih s**a yang halus halus, Saya memilih MENJADI WARGA SIPIL.

Arsad Idrus/

Address

Mamuju
91464

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Arsad Idrus posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share